Denpasar Kite Festival ke-10 Resmi Digelar, 763 Layangan Tradisional Bali Menerbangi Langit Pantai Mertasari Sanur

Penulis: Haris Maulana  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 00:13:32 WIB
Sebanyak 763 layangan tradisional Bali menerbangi langit Pantai Mertasari Sanur pada pembukaan Denpasar Kite Festival ke-10.

DENPASAR — Langit Pantai Mertasari, Sanur, berubah menjadi panggung raksasa bagi puluhan layangan berukuran besar atau big size dengan bentang sayap lebih dari enam meter. Layangan-layangan tersebut tampak mencolok dan menyedot perhatian warga yang memadati kawasan pantai sejak Sabtu pagi.

Festival tahun ini terasa istimewa karena menampilkan layangan Bebean khas Sanur yang menjadi daya tarik utama. Kehadiran jenis layangan tersebut dinilai menunjukkan tradisi melayangan masih hidup dan berkembang di kawasan pesisir Denpasar.

Keberagaman Kategori dan Kreasi Layangan Mewarnai Hari Pertama

Ketua Umum Pelangi Denpasar, Ir. I Wayan Mariyana Wandhira, mengatakan ratusan layangan yang diterbangkan terbagi dalam tiga kategori utama, yakni plastik, remaja, dan dewasa. Ia menegaskan festival ini bukan sekadar ajang adu tinggi layangan, melainkan ruang menjaga warisan budaya Bali.

"Layangan bebean khas Sanur turut ditampilkan dalam festival. Jenis layangan tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam pelaksanaan kegiatan di Pantai Mertasari. Kehadirannya juga menunjukkan keberadaan tradisi melayangan yang masih berkembang di kawasan Sanur," katanya.

Selain layangan tradisional, para peserta juga menerbangkan layangan kreasi tiga dimensi (3D) dan flat. Beragam bentuk dan desain ditampilkan tanpa meninggalkan karakter seni layangan khas Bali.

Pelangi Denpasar: Tradisi Melayangan Harus Terus Tumbuh di Tengah Modernisasi

Wandhira menambahkan, keberagaman jenis dan kategori dalam festival ini membuktikan tradisi melayangan masih mendapat tempat di tengah masyarakat. Menurutnya, tradisi tersebut justru terus berkembang melalui kreativitas para pelayang dari berbagai kalangan.

Denpasar Kite Festival yang memasuki dekade kesepuluh ini diharapkan mampu menjadi magnet bagi komunitas layangan lintas generasi. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa ruang publik di Kota Denpasar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budaya yang produktif.

Pantauan di lokasi, antusiasme pengunjung terlihat sejak siang. Mereka datang tidak hanya untuk menyaksikan layangan raksasa, tetapi juga menikmati suasana pantai yang dipadukan dengan atraksi budaya udara yang khas Pulau Dewata.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: balipost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top