BALI — Undangan resmi yang diterima detikOto mengonfirmasi agenda peresmian pabrik BYD di Subang pada pekan depan. Manajemen BYD Indonesia menyatakan pembangunan fasilitas perakitan kendaraan energi baru di Kabupaten Subang telah rampung dan siap beroperasi.
"Kami sangat bangga telah terlibat dalam percepatan pengembangan ekosistem kendaraan energi baru yang bersih dan berkelanjutan di Indonesia," demikian tertulis dalam undangan yang diterima detikOto.
Pabrik yang berlokasi di Subang Smartpolitan Industrial Park ini menyerap investasi Rp 11,7 triliun. Dengan luas lahan mencapai 126 hektare, fasilitas ini dirancang untuk memproduksi hingga 150 ribuan unit kendaraan setiap tahunnya.
Angka tersebut menempatkan pabrik BYD sebagai salah satu fasilitas manufaktur kendaraan listrik terbesar di Indonesia. Kehadirannya disebut manajemen sebagai tonggak sejarah dalam pengembangan industri elektrifikasi nasional, sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja baru dan pertumbuhan industri lokal.
Kesiapan pabrik Subang tidak main-main. BYD telah mengantongi sejumlah sertifikasi penting, termasuk World Manufacturer Identifier (WMI) untuk Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK), Certificate of Standard, dan sertifikat IKD (Incompletely Knocked Down).
Sertifikat IKD menjadi kunci penting karena memungkinkan BYD merakit kendaraan dari komponen yang dikirim dalam kondisi tidak utuh. Strategi ini umum digunakan pabrikan untuk menekan bea masuk dan memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Untuk tahap awal, produksi pabrik Subang akan difokuskan untuk memenuhi permintaan pasar domestik. Namun potensi ekspor ke negara-negara Asia Tenggara lainnya disebut tetap terbuka lebar.
Saat ini BYD memasarkan enam model di Indonesia: Seal, M6, Dolphin, Atto 3, Sealion 7, dan Atto 1. Seluruh model tersebut masih berstatus impor utuh (Completely Build Up/CBU) dari China.
Belum ada konfirmasi resmi model mana yang akan lebih dulu keluar dari lini produksi Subang. Namun melihat tren pasar, model dengan volume penjualan tertinggi seperti Dolphin dan Atto 3 menjadi kandidat kuat untuk dirakit lokal guna menekan harga jual.
Keputusan perakitan lokal ini berpotensi mengubah peta persaingan harga di segmen mobil listrik Indonesia. Dengan biaya produksi yang lebih efisien, BYD bisa lebih agresif bersaing dengan merek seperti Wuling dan Chery yang sudah lebih dulu membangun fasilitas produksi di Tanah Air.
Kabar peresmian pabrik ini sekaligus menjawab janji BYD untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang utuh di Indonesia, bukan sekadar menjadi importir. Rangkaian acara peresmian akan digelar di lokasi pabrik pada Kamis pekan depan.