BALI — Perjalanan Team Spirit di turnamen ini tidak mulus. Setelah tampil solid di fase grup, mereka justru tergelincir di Upper Bracket Semifinal saat menghadapi Team Vision. Kekalahan tersebut memaksa Yatoro dkk untuk bertarung dari lower bracket, di mana satu kesalahan kecil akan langsung menghentikan langkah mereka.
Alih-alih tertekan, kondisi tersebut justru memicu performa terbaik mereka. Team Spirit menyapu bersih tiga pertandingan lower bracket melawan Team Liquid, BoomBoys, dan Team Yandex dengan skor identik 2-0. Momentum inilah yang kemudian mereka bawa hingga ke babak puncak.
Grand Final berjalan alot dan membutuhkan lima game untuk menentukan pemenangnya. Pada game pertama, Team Spirit tampil dominan dengan Shadow Fiend milik Yatoro yang mampu menghabisi perlawanan Team Vision dalam 46 menit. Namun, Team Vision langsung merespons di game kedua dengan analisis yang lebih matang terhadap permainan Spirit, memaksa pertarungan berlangsung selama 64 menit sebelum akhirnya menyamakan kedudukan.
Team Spirit kembali mengambil alih permainan di game ketiga. Collapse yang memegang Axe menjadi momok menakutkan dengan inisiasi yang akurat, membawa timnya menang dalam 45 menit. Team Vision tidak mau menyerah begitu saja. Kombinasi Sand King milik no[o]ne dan Doom dari Noticed terbukti efektif untuk membawa pertandingan ke game penentu dengan kemenangan di game keempat dalam 44 menit.
Game kelima menjadi panggung penentu sejarah. Kedua tim sempat beradu strategi di fase drafting, namun keputusan Team Vision untuk memilih Juggernaut sebagai hero terakhir menuai kebingungan dari para penonton. Keputusan tersebut terbukti menjadi bumerang, karena komposisi tim mereka terlihat kurang solid menghadapi lineup Team Spirit.
Meski demikian, Team Vision tetap memberikan perlawanan sengit hingga game berjalan 64 menit sebelum akhirnya menyerah. Kekalahan ini memupus harapan no[o]ne dan rekan-rekannya untuk mengangkat Aegis pertamanya, sekaligus mengukuhkan dominasi Team Spirit di kancah esports Dota 2.
Dari enam pemain yang pernah membawa Team Spirit juara, hanya Yatoro dan Collapse yang kini mengoleksi tiga gelar Aegis. Sementara itu, Miposhka yang merupakan kapten di dua gelar sebelumnya kini menjabat sebagai coach. Larl yang bergabung sejak kemenangan The International 2023 menambah koleksinya menjadi dua gelar, sedangkan Rue dan Not Me merasakan kemenangan perdana mereka di turnamen paling prestisius ini.