BALI — Ketegangan di puncak organisasi sepak bola dunia mencapai titik kritis. UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara kolektif meminta Gianni Infantino membatalkan pencalonannya pada pemilihan presiden FIFA 2027 dan segera meninggalkan jabatannya. Sikap ini merupakan eskalasi dari kritik berbulan-bulan terhadap kepemimpinan Infantino yang dinilai otoriter dan minim transparansi.
Pokok persoalan berpusat pada FIFA Forward Enterprises (FFE), sebuah entitas komersial yang dibentuk di bawah kepemimpinan Infantino. Ketiga konfederasi menilai pengelolaan FFE tidak memiliki mekanisme pengawasan yang jelas, sehingga memicu konflik kepentingan dan dugaan penyalahgunaan wewenang. Mereka mendesak FIFA untuk membuka seluruh pembukuan FFE kepada auditor hukum independen.
"Kami tidak bisa lagi berdiam diri ketika masa depan sepak bola dipegang oleh satu orang tanpa akuntabilitas," demikian pernyataan sikap bersama yang dikeluarkan oleh perwakilan UEFA, Concacaf, dan AFC. Mereka menegaskan bahwa langkah ini bukan soal kepentingan politik semata, melainkan penyelamatan integritas FIFA sebagai induk organisasi sepak bola global.
Yang membuat desakan ini lebih serius adalah ultimatum yang menyertainya. Jika tuntutan untuk investigasi independen tidak dipenuhi dan Infantino tetap memaksakan diri maju lagi, ketiga konfederasi siap merealisasikan ancaman untuk menyelenggarakan kompetisi tandingan. Langkah ini akan memecah belah kalender sepak bola internasional dan secara efektif menciptakan otoritas paralel di luar FIFA.
Kekuatan politik gabungan UEFA, Concacaf, dan AFC tidak bisa diremehkan. Mereka mewakili mayoritas negara-negara dengan basis penggemar dan pendapatan terbesar di dunia. Jika skenario kompetisi tandingan benar-benar terjadi, dampaknya akan langsung terasa pada siklus Piala Dunia 2026 mendatang yang notabene digelar di bawah payung FIFA.
Ketegangan antara Infantino dan konfederasi regional sebenarnya telah berlangsung lama, namun baru mencapai puncaknya setelah struktur FFE diekspos. Kritik utama tertuju pada kurangnya keterlibatan konfederasi dalam pengambilan keputusan strategis yang berdampak pada pendapatan dan jadwal pertandingan. Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum mengeluarkan tanggapan resmi atas ultimatum tersebut.
Langkah selanjutnya akan menentukan arah politik sepak bola global. Apakah Infantino akan merespons dengan dialog atau menempuh jalur konfrontasi. Yang jelas, persatuan tiga konfederasi besar ini menjadi sinyal paling kuat dalam satu dekade terakhir bahwa kepemimpinan tunggal FIFA sedang diuji. Para pengamat sepak bola internasional menilai situasi ini bisa berujung pada restrukturisasi besar-besaran, atau justru perpecahan permanen yang mengubah peta kekuatan olahraga paling populer di dunia.