BANGLI — Ribuan krama adat Batur menggelar napak tilas memperingati 100 tahun Rarud Batur atau letusan Gunung Batur pada 1926. Mereka berjalan kaki menyusuri tebing Kaldera I Batur mulai pukul 08.00 WITA, membawa panji-panji tempekan dari Purwa Mandala (Titik Nol) Desa Batur Let, melintasi Desa Adat Bayung Gede, dan berakhir di Pura Ulun Danu Batur.
Perjalanan sepanjang hari itu tiba di Desa Adat Bayung Gede sekitar pukul 11.00 WITA. Rombongan disambut dan dijamu warga setempat, mengulang kembali momen seratus tahun silam ketika masyarakat Batur mengungsi dan menitipkan benda-benda sakral Pura Ulun Danu Batur di Pura Bale Agung desa tersebut.
Bendesa Bayung Gede, Ketut Sukarta, menuturkan bahwa hubungan kedua desa telah berlangsung ratusan tahun dan dijaga ketat oleh warganya. Salah satu bentuk ikatan itu adalah tradisi pantang menikah antarwarga kedua desa yang masih dipegang hingga kini.
"Seratus tahun lalu, ketika Desa Batur terkena erupsi Gunung Batur, duwe-duwe (benda sakral) milik Pura Ulun Danu Batur distanakan di sini selama dua tahun. Ini adalah bentuk kedekatan, karena Bayung Gede memang sangat dekat secara budaya dan spiritual, sehingga waktu kejadian Rarud Batur kami memang sangat dipercaya untuk menyimpan duwe-duwe tersebut," katanya.
Ketut Sukarta menambahkan, kepercayaan itu berlanjut hingga sekarang. Bayung Gede diyakini sebagai lumbung beras Ida Bhatari Batur, di mana masyarakat rutin mempersembahkan sarin tahun ke Pura Ulun Danu Batur setiap Purnama Kasanga. Bahkan saat Ida Bhatara-Bhatari Batur melaksanakan melasti ke laut di selatan Pulau Bali, mereka juga masandekan di pura setempat.
Jero Gede Duhuran Batur mengaku terharu dengan penyelenggaraan napak tilas ini. Menurutnya, kegiatan tersebut mencitrakan perjalanan panjang leluhur Batur dalam mempertahankan kebudayaan di tengah bencana besar.
"Napak tilas yang kita laksanakan adalah untuk mengenang semangat leluhur kami seratus tahun lalu karena peristiwa letusan Gunung Batur tersebut," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kekerabatan antara Desa Batur dan Bayung Gede tidak hanya terjalin secara sakala (nyata), tetapi juga niskala (gaib). "Batur dan Bayung Gede itu adalah saudara, dan kita senantiasa berharap agar hubungan ini dapat terjalin dengan baik sampai kapan pun," katanya.
Senada dengan itu, Jero Penyarikan Duuran Batur menyebut solidaritas masyarakat pegunungan Bali ini wajib dijaga dan diwariskan. "Apa yang kita warisi hari ini adalah yang dititipkan oleh leluhur kita sejak berabad-abad. Tentu kita tidak boleh dan tidak akan berani mengubahnya, menambah-nambahi, lebih-lebih menguranginya. Mari kita teruskan titipan ini untuk generasi muda ke depan," tegasnya.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 16.00 WITA ini dihadiri sejumlah tokoh adat kedua desa, di antaranya Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur, Dane Jero Balian Desa Kajanan Batur, para Jero Mangku, Jero Kraman, Jero Mekel, serta Jero Kubayan dan Jero Paduluan Bayung Gede. Ramah tamah yang mengiringi napak tilas menjadi ruang bertemunya generasi muda dari dua desa yang terikat sejarah panjang.