JAKARTA — PWI Fest 2026 bukan sekadar seremoni tahunan. Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menegaskan bahwa event ini lahir dari tekanan nyata yang dihadapi pers nasional akibat lompatan teknologi digital dan AI. “Perkembangan Artificial Intelligence dan ekosistem digital hari ini telah mengubah peta industri media secara fundamental. Pers Indonesia tidak boleh gagap, ragu, atau sekadar menjadi penonton,” ujarnya dalam pengumuman resmi yang diterima redaksi, Senin lalu.
Ketua Panitia PWI Fest 2026, Auri Jaya, menjelaskan bahwa event ini menggabungkan penguatan kompetensi pekerja media dengan kolaborasi sosial. “Selain menggelar workshop dengan pemateri dari platform-platform global seperti TikTok, Meta, dan Google, kita juga menggelar UMKM Festival,” kata Auri.
Workshop akan membahas jurnalisme digital dan AI, mulai dari Mobile Journalism, verifikasi data menggunakan teknik OSINT, hingga keamanan digital. Peserta yang ditargetkan mencapai 250 hingga 500 orang, terdiri dari wartawan, editor, dan content creator dari seluruh Indonesia.
Selain sesi diskusi dan pelatihan, PWI Fest 2026 akan dimeriahkan dengan UMKM Festival, Kompetisi E-Sports, dan Panggung Hiburan Rakyat. Rangkaian ini digarap melalui sinergi dengan pemerintah pusat, BUMN, swasta, dan platform digital. Bagi PWI, pendekatan ini menjadi cara untuk memastikan pers tetap relevan dan menyatu dengan masyarakat.
Penyelenggaraan PWI Fest 2026 juga secara resmi menandai dimulainya rangkaian menuju Hari Pers Nasional (HPN) 2027 yang akan dipusatkan di Provinsi Lampung pada April 2027. Akhmad Munir menambahkan, transformasi teknologi tidak boleh mencabut pers dari akar sosialnya. “Pers yang kuat adalah pers yang tetap relevan dan menyatu dengan rakyat. PWI Fest tidak hanya kita desain sebagai ruang diskusi akademik, tetapi juga sebagai ruang terbuka melalui UMKM Festival dan pesta rakyat,” tegasnya.
Ke depan, PWI Fest direncanakan akan digelar secara bergilir di berbagai kota di Indonesia sebagai event tetap tahunan organisasi.