DENPASAR — Kekhawatiran terhadap rencana Pusat Keuangan Internasional di Bali tidak hanya datang dari aktivis lingkungan, tetapi juga dari kalangan akademisi tata ruang. Prof. Putu Rumawan Salain dari Universitas Warmadewa mengingatkan bahwa setiap proyek besar harus diukur dari kemampuan lingkungan, bukan semata-mata nilai investasi.
“Persoalannya bukan sekadar berapa besar keuntungan ekonomi yang diperoleh. Pertanyaan utamanya, berapa daya tampung Bali? Setelah itu, bagaimana daya lenting lingkungan kita untuk pulih ketika menerima tekanan pembangunan?” ujarnya, Sabtu (25/7).
Prof. Rumawan mencontohkan menjamurnya usaha laundry di berbagai wilayah Bali sebagai bukti lemahnya evaluasi dampak lingkungan. Ribuan usaha tersebut menghasilkan limbah cair, deterjen, dan bahan kimia yang hingga kini tidak jelas pengelolaannya.
“Siapa yang menghitung limbah itu dibuang ke mana? Siapa yang mengawasi? Semua aktivitas ekonomi menambah beban lingkungan, tetapi jarang dihitung secara serius,” tegasnya.
Menurutnya, pola yang sama bisa terulang pada proyek IFC jika tidak ada kajian menyeluruh terhadap kebutuhan air bersih, energi, pengelolaan limbah, dan perubahan tata ruang.
Selain aspek lingkungan, Prof. Rumawan juga menyoroti urgensi membangun kawasan fisik baru untuk IFC. Ia menilai transaksi keuangan global saat ini sebagian besar telah berlangsung secara elektronik, sehingga belum tentu membutuhkan bentang ruang baru yang mengubah wajah Bali.
“Dubai berbeda, Singapura berbeda, Jakarta berbeda. Bali juga memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Karena itu jangan terburu-buru mengambil keputusan sebelum kajiannya benar-benar matang,” katanya.
Ia mendesak pemerintah untuk membuka secara transparan konsep IFC, termasuk lokasi, kebutuhan lahan, bentuk pembangunan, serta dampak terhadap lingkungan dan sosial budaya. Keterbukaan dinilai penting agar masyarakat bisa memberikan masukan sebelum proyek direalisasikan.
Pendapat senada disampaikan Dosen Akuntansi Universitas Hindu Indonesia I Putu Fery Karyada. Menurutnya, Bali memiliki kekuatan utama pada living culture dan harmoni manusia dengan alam, bukan pada akumulasi kapital ala Singapura atau Dubai.
“Bali justru bisa membangun diferensiasi sebagai pusat orkestrasi pembiayaan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Fery yang juga Ketua Kerthi Bali Research Center menilai konsep IFC di Bali sebaiknya diarahkan menjadi Sustainable & Cultural Financial Center, yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan budaya.
Prof. Rumawan menegaskan bahwa tata ruang Bali adalah instrumen penting menjaga keseimbangan. Setiap keputusan strategis, kata dia, harus berdasarkan kajian ilmiah objektif dan berpihak pada kepentingan generasi mendatang. “Yang paling penting adalah menjaga Bali. Alamnya harus dilindungi, budayanya harus diamankan,” pungkasnya.