BANTUL — Puluhan dosen seni dari dua institusi seni terbesar di Indonesia, ISI Yogyakarta dan ISI Bali, berpartisipasi dalam Yogya Annual Art ke-11 yang berlangsung di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan, Bantul. Pameran yang digelar mulai 19 Juni hingga 8 September 2026 ini mengambil tema "Direction" (Arah), yang menjadi kerangka kuratorial bagi para perupa untuk merefleksikan perjalanan kreatif mereka.
Salah satu peserta yang menyita perhatian adalah Wayan Sujana Suklu, dosen seni asal Bali. Ia memamerkan 30 panel berukuran 30x30 cm yang terbagi dalam dua seri: "Kisah Ingatan Kanak-Kanak" sebanyak 15 panel, dan "Kisah Warna Sekitar" sebanyak 15 panel lainnya. Karya-karya ini tidak sekadar gambar, melainkan fragmen memori yang disusun seperti potongan puzzle.
Dalam seri "Kisah Ingatan Kanak-Kanak", Suklu menghadirkan ikon-ikon sederhana: rumah dengan garis tegas, awan yang berarak, matahari dengan sinar naif, bunga berkelopak bulat, burung yang terbang, hingga jamur yang menjelma menjadi wajah. Garis-garis tipis dan warna pastel yang lembut menciptakan atmosfer nostalgia yang tidak sentimental, melainkan produktif—membuka ruang refleksi tentang bagaimana masa kanak-kanak membentuk cara kita melihat dunia.
Menurut catatan kuratorial pameran, karya Suklu menjadi semacam counterpoint dalam tema besar "Direction". Alih-alih memandang arah sebagai garis lurus menuju masa depan, Suklu justru menawarkan gerak spiral yang kembali ke asal: masa kanak-kanak yang penuh rasa ingin tahu.
Yang menarik dari karya Suklu adalah hubungan antarpanel yang dapat dibaca sebagai ritme visual menyerupai musik atau puisi. Panel rumah menjadi nada dasar seperti akor pembuka yang menegaskan asal-usul. Saat berpindah ke awan, ritme menjadi lebih ringan, seperti melodi yang mengalun menghadirkan nuansa kebebasan. Ketika burung muncul, ritme berubah menjadi lebih dinamis—gerak sayap burung menjadi aksen ritmis yang menandai mobilitas, semacam crescendo dalam perjalanan visual.
Lima belas panel bertema "Kisah Warna Sekitar" dapat dibaca sebagai atlas memori masa kanak-kanak, di mana setiap ikon sederhana menjadi kompas kecil yang menunjuk pada pengalaman tertentu. Transisi antarikon bukan sekadar perpindahan gambar, melainkan pergeseran nada dan tempo.
Secara keseluruhan, pameran Yogya Annual Art ke-11 dengan tema "Direction" ingin menegaskan bahwa arah seni tidak ditentukan oleh algoritma, tren global, atau sistem birokrasi semata. Melainkan oleh keberanian seniman—dalam hal ini para dosen—untuk merawat kepekaan tubuh, imajinasi, dan intuisi sebagai kompas utama.
Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia. Tema "Direction" dibaca sebagai manifesto bersama bahwa seni adalah perjalanan yang terus mencari arah baru, namun tetap berpijak pada martabat rasa dan pengalaman manusia.
Dalam konteks ini, karya Wayan Sujana Suklu menjadi pengingat bahwa direction dapat berarti kembali ke titik awal, ke akar pengalaman yang paling polos. Panel-panel itu tidak menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan: bagaimana arah seni bisa tetap jernih jika kita berani kembali ke masa kanak-kanak, ke dunia yang belum terikat oleh aturan akademik atau pasar?