MANGUPURA — Capaian itu terungkap dalam monitoring dan evaluasi yang dilakukan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali bersama Dinas Kesehatan setempat di Puskesmas Kuta II beberapa waktu lalu. Hasilnya, dari angka 78 persen ODHA yang dalam pengobatan ARV, sebanyak 66 persen di antaranya telah mencapai viral load tersupresi—artinya virus di tubuh mereka tidak terdeteksi dan risiko penularan sangat rendah.
Angka-angka ini merupakan bagian dari target global 95-95-95: 95 persen ODHA mengetahui statusnya, 95 persen yang mengetahui statusnya mendapat ARV, dan 95 persen yang menjalani terapi mengalami supresi virus. Kepala Sekretariat KPA Bali, AAN Patria Nugraha, menegaskan bahwa capaian Puskesmas Kuta II menjadi indikator penting bagi program serupa di daerah lain.
“KPA Provinsi Bali terus berupaya memberikan dukungan dalam peningkatan pelayanan kesehatan HIV dengan memfasilitasi akses masyarakat ke layanan kesehatan untuk skrining dan pengobatan,” ujar Patria dalam keterangannya.
Untuk menjangkau lebih banyak warga, Puskesmas Kuta II menyediakan layanan tes HIV di luar jam operasional—setiap Rabu pekan pertama dan ketiga. Layanan ekstra hour ini, kata Patria, sangat diminati oleh klien yang tidak bisa datang pada jam kerja biasa.
Puskesmas setempat juga memiliki enam tenaga konselor, termasuk kepala puskesmas, yang memastikan proses konseling dan tes HIV berjalan sesuai standar. Prinsip kerahasiaan dan sukarela menjadi pijakan utama dalam setiap sesi Voluntary Counseling and Testing (VCT).
Meski capaian positif, kasus lost to follow up (LFU)—pasien yang putus obat atau hilang kontak—masih menjadi pekerjaan rumah. KPA Bali dan KPA Kabupaten Badung menggandeng LSM komunitas untuk menelusuri dan mendampingi ODHA agar kepatuhan minum obat terjaga.
“Konseling kepatuhan minum obat kepada ODHA perlu ditingkatkan agar mengantisipasi terjadinya kasus putus obat dan resisten obat,” tambah Patria. Pelayanan di Puskesmas Kuta II juga telah berkolaborasi dengan poli TBC dan menerapkan pendekatan ramah pasien tanpa diskriminasi, guna meminimalisir stigma di masyarakat.