GRESIK — Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menilai capaian Jawa Timur layak menjadi contoh bagi provinsi lain yang masih abai terhadap persoalan sampah. Penilaian ini mengacu pada Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang menjadi acuan evaluasi tahun 2026.
"Jawa Timur menjadi peringkat satu dalam penilaian kami terkait pengelolaan lingkungan dan penanganan sampah. Ini bisa menjadi contoh bagi provinsi lain yang masih kurang serius dan abai terhadap persoalan tersebut," kata Jumhur di Gresik, Rabu.
Meski meraih peringkat terbaik, data SIPSN mencatat timbulan sampah di Jawa Timur masih sangat besar, mencapai sekitar 12.314 ton per hari atau lebih dari delapan juta ton per tahun. Angka ini menunjukkan besarnya tantangan yang masih dihadapi.
Evaluasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Timur mengungkapkan bahwa pengurangan sampah dari sumber melalui pemilahan dan bank sampah baru mencapai sekitar 11 persen. Artinya, sebagian besar sampah masih harus diolah di tingkat akhir.
Menteri Jumhur menjelaskan bahwa keberhasilan Jawa Timur tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah membangun kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Salah satu instrumen utamanya adalah Program Adiwiyata yang menyasar satuan pendidikan.
Program ini merupakan instrumen Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong sekolah membangun budaya peduli lingkungan melalui penilaian bertahap hingga predikat tertinggi, yakni Adiwiyata Mandiri. SMA Negeri 1 Gresik menjadi salah satu contoh institusi pendidikan yang berhasil mencapai kategori tertinggi tersebut.
"Di SMA Negeri 1 Gresik ini, dalam penilaian kami masuk kategori tertinggi. Mereka mampu menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan menjadi contoh bagi institusi pendidikan di seluruh Indonesia," ujar Jumhur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tidak berhenti pada program lingkungan semata. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mengembangkan sekolah inovatif berbasis ketahanan pangan untuk melengkapi implementasi Program Adiwiyata.
Menurut Khofifah, konsep ketahanan pangan tidak harus diterapkan pada lahan yang luas. Sekolah dapat mengembangkannya di lingkungan sendiri melalui pertanian, peternakan, maupun perikanan yang melibatkan peserta didik secara langsung.
"Kami ingin ini menjadi pilot project. Semua lahan di institusi pendidikan bisa dimanfaatkan, kemudian hasilnya dihilirisasi menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan dapat dipasarkan," katanya.
Dengan pendekatan integratif antara kesadaran lingkungan dan kemandirian pangan ini, Jawa Timur optimistis dapat terus memperbaiki peringkat pengelolaan sampahnya sekaligus mencetak generasi yang peduli terhadap lingkungan sejak bangku sekolah.