10 Juli 2026 Jadi Hari Baik Bangun Rumah dan Gotong Royong, Warga Bali Dilarang Bahas Rahasia

Penulis: Eri Subagio  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 18:33:01 WIB
Warga Bali dianjurkan memulai pembangunan rumah dan gotong royong pada 10 Juli 2026 sesuai kalender tradisional.

DENPASAR — Masyarakat Hindu Bali yang hendak memulai pembangunan rumah atau menggelar kegiatan sosial pada Jumat (10/7/2026) perlu mencermati pakem wariga. Berdasarkan kalender tradisional Bali, hari ini dinaungi kombinasi Sampi Gumarang Turun dan Semut Sedulur. Dua indikator ini dipercaya membawa energi positif besar untuk urusan domestik dan pertanian.

Aktivitas yang Disarankan: Bangun Rumah hingga Pasang Tali Sawah

Pengaruh Semut Sedulur menjadikan hari ini sangat cocok untuk kerja bakti, membentuk perkumpulan, atau memulai kampanye. Sementara itu, Sampi Gumarang Turun memberikan dukungan penuh untuk aktivitas agraria.

“Hari ini sangat baik (dewasa ayu) untuk menanam padi, menanam jagung, dan memulai pembangunan rumah. Selain itu, pengaruh Semut Sedulur juga sangat cocok untuk menggelar kegiatan gotong royong, kerja bakti, membentuk perkumpulan, hingga memulai kampanye,” demikian petikan panduan penanggalan Bali untuk 10 Juli 2026.

Bagi petani, pengaruh Pepedan dan Taliwangke dinilai baik untuk membuka lahan baru, memasang tali penghambat di sawah, atau memperbaiki pagar. Nelayan pun diuntungkan dengan hadirnya Kala Mina yang mendukung pembuatan alat tangkap ikan hingga turun langsung melaut.

Pantangan Keras: Jangan Bahas Rahasia dan Ngaben

Meski dipenuhi berkah, wariga hari ini juga memberikan rambu-rambu tegas. Di bawah pengaruh Kala Beser, masyarakat dilarang membuat empangan atau bendungan. Larangan paling unik datang dari pantangan membicarakan hal-hal yang bersifat rahasia.

Tantangan lain dipertegas oleh hadirnya Uncal Balung dan Kala Ingsor. Uncal Balung melarang keras warga melakukan semua jenis pekerjaan yang dianggap sangat penting atau krusial. Sementara Kala Ingsor membawa sifat mengecewakan, sehingga aktivitas berisiko tinggi sebaiknya ditunda.

Dari aspek adat, pengaruh Semut Sedulur juga membawa larangan untuk tidak melaksanakan upacara mengubur atau membakar mayat (atiwa-tiwa/ngaben) pada hari ini. Selain itu, berdasarkan pengaruh Kala Timpang, warga dilarang keras berburu.

Kondisi Batin: Dinamis Namun Tetap Bisa Bergembira

Secara personal, hari Jumat ini berada di bawah naungan Pararasan: Laku Bintang dan Pancasuda: Lebu Katiup Angin. Karakteristik ini menandakan kondisi batin yang cenderung dinamis dan mudah terombang-ambing. Namun, kombinasi Ekajalaresi: Buat Suka dan Pratiti: Bhawa tetap membuka ruang bagi hadirnya kegembiraan di tengah aktivitas harian warga Bali.

Reporter: Eri Subagio
Sumber: kabarbali.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top