Anak Petani Buleleng Nengah Renaya Kini Jadi Notaris, Akademisi, dan Ketua Dewan Pakar Hanura Bali

Penulis: Gilang Permana  •  Senin, 06 Juli 2026 | 14:27:01 WIB
Nengah Renaya, anak petani Buleleng, kini berperan sebagai notaris, akademisi, dan Ketua Dewan Pakar Hanura Bali.

BULELENG — Perjalanan Nengah Renaya dimulai dari kesederhanaan. Lahir dari keluarga petani, ia sejak kecil terbiasa membantu orang tuanya berjualan jajanan tradisional seperti laklak, pisang rai, dan tipat. Pengalaman itu, menurutnya, justru membentuk karakter pantang menyerah yang terus ia pegang hingga kini.

"Orang tua saya petani. Saya merasakan bagaimana hidup sederhana. Karena itu saya selalu percaya pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah kehidupan," ujarnya, Minggu (5/7/2026).

Merantau ke Mataram Sambil Bekerja di Kantor Notaris

Selepas SMA, Renaya memutuskan meninggalkan kampung halaman. Ia hidup mandiri di Mataram, Nusa Tenggara Barat, sambil menempuh pendidikan ekonomi. Di kota itulah ia bekerja di sebuah kantor notaris dan mulai tertarik pada dunia hukum.

"Sejak tamat SMA saya sudah hidup sendiri. Saya sekolah sambil bekerja di kantor notaris. Dari sana saya banyak belajar tentang dunia hukum," kenangnya.

Gelar Akademik Bukan Sekadar Simbol

Semangat belajar Renaya tak pernah padam. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi, ia melanjutkan studi di bidang hukum, pendidikan, dan kenotariatan, hingga meraih gelar doktor. Saat ini ia masih menempuh program doktor di bidang Linguistik Bahasa Inggris di Universitas Udayana. Baginya, gelar akademik adalah bekal untuk memberi manfaat lebih besar kepada masyarakat.

"Saya percaya hanya ilmu pengetahuan yang membuka hati, membuka pikiran, dan mencerdaskan jiwa. Karena itu saya terus belajar," katanya.

Kecintaannya pada dunia pendidikan membuatnya kini mengajar di Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, serta Program Magister dan Sarjana Hukum. Ia juga aktif menjadi pembicara di forum akademik nasional dan internasional, termasuk di sejumlah negara ASEAN.

Mengapa Bergabung dengan Partai Hanura?

Di sela kesibukan sebagai notaris dan dosen, Renaya mengaku masih memiliki kegelisahan. Ia merasa ilmu yang dimiliki harus memberi manfaat lebih luas. Pemikiran itulah yang mendorongnya aktif di organisasi kemasyarakatan dan akhirnya bergabung dengan Partai Hanura pada 2009.

"Saya berpikir, mengapa saya tidak berbuat untuk orang banyak. Kalau hanya memikirkan diri sendiri, manfaatnya terbatas. Tetapi ketika kita memikirkan masyarakat, di situlah pengabdian memiliki arti," ungkapnya.

Tak Putus Ikatan dengan Kampung Halaman

Meski memiliki profesi mapan, Renaya hampir setiap pekan pulang ke Buleleng. Ia mengembangkan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, seni, dan pelestarian budaya Bali. Ia juga tengah membangun galeri yang memuat karya seni serta ruang edukasi mengenai sejarah Weda.

Di luar aktivitas akademik dan hukum, Renaya gemar menulis puisi. Menurutnya, sastra menjadi ruang untuk menjaga kepekaan batin. Namun untuk sementara, aktivitas menulis dikurangi agar fokus menyelesaikan studi doktoralnya.

"Saya selalu percaya, ilmu harus membawa manfaat. Kalau ilmu hanya berhenti pada diri sendiri, nilainya menjadi kecil. Tetapi kalau bisa dipakai membantu orang lain, di situlah pendidikan menemukan maknanya," tutupnya.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: dutabalinews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top