BALI — Vatikan baru saja mengambil sikap paling tegas terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Melalui ensiklik perdana yang dirilis Senin lalu, Paus Leo XIV memperingatkan bahaya "kesalahpahaman menyamakan jenis 'kecerdasan' ini dengan kecerdasan manusia." Dokumen setebal 42.300 kata (versi bahasa Inggris) ini menjadi pedoman resmi Gereja Katolik dalam menyikapi teknologi AI.
Dalam dokumen tersebut, Paus menegaskan bahwa AI hanyalah tiruan dari fungsi intelektual manusia. "Sistem ini hanya meniru fungsi tertentu dari kecerdasan manusia. Dalam melakukannya, mereka sering melampaui manusia dalam kecepatan dan kapasitas komputasi, menawarkan manfaat nyata di banyak bidang," tulisnya.
Namun, Paus mengingatkan bahwa AI tidak memiliki pengalaman hidup. "Yang disebut kecerdasan buatan tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan suka atau duka, tidak dewasa melalui hubungan, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, pekerjaan, persahabatan, atau tanggung jawab," lanjutnya.
Salah satu kekhawatiran utama Paus adalah dampak AI terhadap lapangan kerja. Ia memperingatkan bahwa teknologi ini—dan keuntungan yang menyertainya—tidak boleh digunakan untuk membenarkan pemutusan hubungan kerja massal. Paus mendorong adanya program pelatihan ulang dan perlindungan pekerja bagi mereka yang terancam kehilangan pekerjaan karena AI.
Paus juga menyoroti konsentrasi kekayaan yang sudah terjadi di tangan segelintir orang. Menurutnya, pemerintah harus memastikan kekayaan itu tidak semakin terpusat. "Penting untuk menetapkan alat regulasi yang memadai yang mampu menegakkan keadilan dan mengekang efek distorsi dari kekuatan teknologi," tegasnya.
Paus menyerukan "aliansi pendidikan untuk era digital" yang mendorong anak muda berpikir kritis tentang AI. Regulasi, menurutnya, harus melindungi anak-anak dari konten "kekerasan atau merendahkan" yang dihasilkan AI, termasuk risiko grooming dan eksploitasi seksual.
Dalam soal keamanan global, Paus secara khusus meminta para pemimpin dunia memastikan bahwa manusia, bukan AI, yang membuat semua keputusan terkait senjata di masa depan.
Meski kritis, Paus tidak memusuhi AI. Ia menegaskan teknologi ini tidak boleh dipandang "sebagai kekuatan yang memusuhi kemanusiaan." Jika dikelola dengan hati-hati, AI bisa "membuka cakrawala yang meluas ke segala arah."
Vatikan sendiri sudah mulai memanfaatkan AI. Pada Februari lalu, Vatikan bekerja sama dengan penyedia layanan bahasa Translated untuk menyediakan terjemahan langsung bertenaga AI bagi jemaat Misa Kudus. Paus juga menyampaikan pernyataan ini bersama Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic—perusahaan AI di balik model Claude.
Belum ada kepastian waktu. Paus menyerukan pembentukan alat regulasi yang memadai, namun implementasinya bergantung pada kebijakan masing-masing negara.
Pekerja di sektor yang rawan otomatisasi dan anak-anak yang terpapar konten digital menjadi kelompok paling rentan menurut dokumen ini.
Dokumen ensiklik ini bersifat imbauan moral dan pedoman bagi umat Katolik, bukan aturan hukum yang mengikat secara sipil.