DENPASAR — Dari dapur rumah sederhana di kawasan Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Ni Luh Sri Wahyuningsih mengelola usaha keripik ayam yang produksinya tembus ratusan kilogram per hari. Usaha ini dijalaninya sambil tetap menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.
Ni Luh memulai usahanya dengan peralatan seadanya di dapur pribadi. Tanpa pelatihan formal, ia belajar meracik bumbu dan teknik penggorengan secara otodidak hingga menemukan resep yang cocok dengan lidah konsumen lokal di Denpasar.
Permintaan yang terus meningkat membuatnya perlahan menambah kapasitas produksi. Kini, dalam sehari ia mampu menghasilkan lebih dari seratus kilogram keripik ayam siap edar.
Ni Luh mengatur jadwal produksi di sela-sela waktu mengurus rumah tangga. Bahan baku ayam segar diproses setiap pagi setelah suami berangkat kerja dan anak-anak berangkat sekolah. Sistem ini memungkinkannya tetap fokus pada keluarga tanpa mengorbankan produktivitas usaha.
“Mendapatkan penghasilan sendiri tanpa harus mengabaikan tugas dan peran di dalam keluarga adalah dambaan banyak ibu rumah tangga,” kata Ni Luh Sri Wahyuningsih.
Produk keripik ayam buatannya dipasarkan secara daring dan titip ke sejumlah warung di wilayah Denpasar Timur. Harga yang kompetitif dan rasa yang konsisten menjadi kunci pelanggan terus kembali.
Ke depan, Ni Luh berencana menambah varian rasa dan memperluas jaringan distribusi ke luar Kota Denpasar. Ia juga ingin mengajak ibu-ibu di lingkungannya untuk belajar mengolah pangan lokal sebagai sumber pendapatan tambahan.