BALI — Koreksi harga yang terjadi di outlet Pegadaian hari ini menjadi angin segar bagi pemburu logam mulia di dalam negeri. Penurunan ini memutus tren kenaikan sebelumnya, sekaligus memperlebar selisih harga antar-merek yang dipasarkan oleh anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tersebut.
Emas batangan produksi PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) mencatatkan penurunan paling drastis. Harga emas UBS kini dibanderol Rp 2.797.000 per gram, merosot tajam dari hari sebelumnya yang berada di angka Rp 2.845.000 per gram. Pegadaian menyediakan pecahan UBS ini mulai dari ukuran 0,5 gram hingga maksimal 500 gram.
Sementara itu, produk emas dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan sebesar Rp 25.000. Harga emas Antam di Pegadaian hari ini dipatok Rp 2.862.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.887.000 per gram. Untuk merek Antam, Sahabat Pegadaian membatasi ketersediaan ukuran dari 0,5 gram hingga 100 gram saja.
Produk dari anak usaha Pegadaian sendiri, Galeri24, ikut menyusut Rp 26.000 menjadi Rp 2.756.000 per gram. Galeri24 menawarkan variasi ukuran paling lengkap, mulai dari pecahan terkecil 0,5 gram hingga ukuran jumbo 1.000 gram atau 1 kilogram.
Kondisi pasar domestik hari ini berbanding terbalik dengan bursa komoditas global. Harga emas dunia di pasar spot justru menguat 1 persen ke level USD 4.532,72 per ounce pada penutupan perdagangan Rabu waktu AS. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga merangkak naik 0,5 persen ke posisi USD 4.535,30 per ounce.
Kenaikan harga emas global dipicu oleh meredanya kekhawatiran inflasi seiring munculnya harapan damai atas konflik geopolitik di Timur Tengah. Sentimen ini sukses menekan harga minyak mentah Brent dan menurunkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun dari level tertingginya sejak awal tahun lalu.
"Kita telah melihat jeda dari peningkatan imbal hasil yang berkelanjutan. Akibatnya, kita telah melihat harga emas menguat dari titik terendah baru-baru ini," ujar David Meger, Direktur Perdagangan High Ridge Futures.
Meger menambahkan, setiap perkembangan positif terkait pembukaan Selat Hormuz akan menguntungkan pasar emas. Situasi kondusif ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan mulai melonggarkan kebijakan moneter ketat mereka.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool terbaru, pelaku pasar kini melihat ada probabilitas sebesar 89,6 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Juni mendatang. Investor juga mulai memperhitungkan peluang sebesar 48,6 persen untuk pemangkasan suku bunga pada akhir tahun nanti.