BALI — Microsoft menggelontorkan dana puluhan miliar dolar AS untuk AI, tapi hasilnya di lapangan justru kontras. Menurut Mat Velloso, mantan VP Product Developer Platform di Meta dan eks Technical Advisor CEO Satya Nadella selama empat tahun, kurang dari 3 persen pengguna berbayar benar-benar memakai Copilot. Padahal fitur itu sudah ditanam paksa di taskbar Windows 11 dan seluruh suite Office.
Dari total 450 juta pelanggan Microsoft 365, hanya 15 juta yang mengambil langganan Copilot berbayar. Artinya, 96,7 persen pengguna menolak fitur premium AI tersebut. Angka ini terbilang sangat kecil jika dibandingkan estimasi belanja AI Microsoft yang mencapai US$37,5 miliar per kuartal (sekitar Rp618 triliun).
Velloso menyebut upaya Microsoft menjadikan Bing sebagai andalan AI juga gagal. Meski digenjot besar-besaran, Bing tak mampu merebut satu persen pun pangsa pasar mesin pencari dari Google. "Mereka kehilangan gelombang AI, sama seperti dulu kehilangan era internet dan mobile," ujar Velloso kepada Windows Latest.
Dorongan Microsoft agar produsen laptop menyematkan Neural Processing Unit (NPU) — prosesor khusus AI — juga berujung sia-sia. Velloso mengungkapkan OEM sudah keluar banyak biaya, tapi "tidak ada satu pun kasus penggunaan berharga yang dibangun untuk NPU di Windows atau Office." Alhasil, perangkat keras canggih itu nyaris tak dipakai pengguna karena tidak ada aplikasi yang benar-benar membutuhkannya.
Situasi makin runyam di GitHub. Platform pengembangan kode yang jadi andalan Microsoft untuk AI coding justru mengalami penurunan keandalan layanan (SLA) di bawah 90 persen. Biaya pokok penjualan (COGS) membengkak, sementara pemegang saham mulai mempertanyakan efektivitas investasi AI.
Tekanan internal mulai terlihat dari gelombang keluarnya petinggi Microsoft. Julia Liuson, kepala Developer Division (DevDiv) yang telah 34 tahun di perusahaan, mengundurkan diri. Velloso mengkritik momen ini dengan nada sinis: "Sepertinya Microsoft baru saja beralih dari tombol 'refresh' ke tombol 'factory reset'." Ia juga mendaftarkan sederet nama besar lain yang hengkang atau dimutasi dalam beberapa bulan terakhir.
Respons Microsoft terhadap kritik ini mulai terlihat. Divisi Windows dan Xbox tiba-tiba gencar memprioritaskan masukan pengguna dan menerapkan fitur yang sudah lama diminta — setelah bertahun-tahun mengabaikannya. Perusahaan juga menghidupkan kembali ajang WinHEC yang terakhir digelar nyaris satu dekade lalu (2018) untuk merangkul OEM, ODM, dan pemasok chipset.
Bagi pengguna Windows 11 dan Microsoft 365 di Indonesia, situasi ini berarti fitur AI seperti Copilot mungkin belum layak dijadikan alasan utama upgrade perangkat atau berlangganan. Tanpa aplikasi yang benar-benar berguna — terutama untuk NPU — spesifikasi AI di laptop baru belum memberikan nilai tambah nyata dalam pekerjaan sehari-hari. Microsoft sendiri tampaknya baru sadar bahwa mendengarkan pengguna adalah langkah pertama sebelum menuai untung dari AI.