BANGLI — Sebuah pengakuan langka keluar dari mulut Gubernur Bali Wayan Koster saat berdiri di hadapan ribuan pelajar SMKN 3 Kintamani, Senin lalu. Di hadapan para siswa dan guru, Koster menceritakan bahwa ia pernah hidup dari ubi, talas, dan singkong sebagai makanan sehari-hari semasa kecil.
"Waktu SD kelas 4 saya sudah bekerja membantu keluarga. Semua hasil kerja tidak pernah saya pakai sendiri, langsung diserahkan ke ibu untuk biaya sekolah," ungkap Koster dalam peringatan HUT ke-17 SMKN 3 Kintamani di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani.
Koster mengaku pekerjaan yang ia lakoni saat kecil bukan sekadar membantu orang tua. Ia memburuh nyangkul, membajak sawah, hingga mengangkut bata merah dan bahan bangunan dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Semua hasil kerja ia serahkan ke ibunya untuk biaya sekolah.
Dari lima bersaudara, Koster mengaku hanya dirinya yang mampu menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Keterbatasan biaya keluarga tidak mematahkan semangatnya. Berbekal kemampuan akademik di bidang matematika, fisika, dan kimia, ia diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Untuk berangkat ke Bandung, Koster mengaku menjual ayam, anak sapi, serta mendapat bantuan dari kerabat. Selama kuliah, ia bertahan hidup dengan mengajar les privat matematika. Dari penghasilan itulah ia membiayai hidupnya sendiri dan membantu keluarganya di kampung.
"Kalau hidup susah jangan menyerah. Saya bisa sampai di titik ini karena kerja keras, disiplin, dan ditolong banyak orang baik," ujarnya yang disambut tepuk tangan para siswa.
Koster menegaskan bahwa perhatian besarnya terhadap sektor pendidikan lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia mengaku tidak ingin ada anak-anak desa di Bali yang putus sekolah hanya karena tidak memiliki biaya.
Saat menjadi anggota DPR RI, Koster aktif memperjuangkan kebijakan pendidikan nasional, mulai dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan siswa miskin, hingga penyusunan regulasi kesejahteraan guru dan dosen yang melahirkan tunjangan profesi guru. "Guru-guru sekarang yang mendapat tunjangan profesi itu lahir dari perjuangan panjang. Dari nol menyusun konsepnya," kata Koster.
Dalam arahannya kepada siswa, Koster meminta generasi muda Bali tidak minder berasal dari desa. Ia menilai lulusan SMK kini memiliki peluang besar bekerja di dunia internasional, terutama di sektor pariwisata dan hospitality.
Menurut Koster, banyak lulusan sekolah vokasi Bali kini bekerja di Jepang, Korea Selatan, Eropa hingga kapal pesiar internasional. Ia menilai anak-anak Bali memiliki karakter unggul seperti disiplin, jujur, dan cepat beradaptasi sehingga sangat dihargai di luar negeri. "Anak-anak Bali di mana pun bekerja selalu dinilai baik. Mereka disiplin, jujur, dan mau bekerja keras," katanya.
Koster juga meminta para siswa serius mempersiapkan diri sejak dini dengan memperkuat keterampilan dan kemampuan bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Jepang, Korea, maupun Mandarin. "Kekayaan yang tidak pernah habis adalah ilmu pengetahuan," tegasnya.
Dalam suasana yang hangat, Koster juga memanggil para siswa yang memiliki nama depan Komang dan Ketut. Momen tersebut menjadi perhatian karena Koster menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya Bali, termasuk sistem penamaan tradisional Bali yang berkaitan dengan urutan kelahiran anak.
Secara pribadi, Koster menyerahkan santunan kepada siswa dengan urutan kelahiran anak ketiga (Komang) dan anak keempat (Ketut). "Gunakan ini untuk membeli buku-buku pelajaran ya anak-anak," ujar Koster yang langsung dijawab kompak oleh para siswa penerima bantuan.