DENPASAR — Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan resmi meluncurkan gerakan moral bertajuk "Peluk Indonesia" di Kota Denpasar. Peluncuran yang dipusatkan di Vihara Buddha Sakyamuni ini menjadi simbol kuatnya rajutan toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata.
Gerakan ini lahir sebagai respons atas meningkatnya tensi dan narasi perpecahan yang sering muncul di ruang digital. Melalui sinergi dengan berbagai tokoh lintas iman, program ini diharapkan mampu meredam provokasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa di media sosial.
Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang akrab disapa Gus Miftah, menegaskan bahwa tantangan kerukunan saat ini telah bergeser ke ranah digital. Provokasi dan konten intoleransi seringkali menyasar emosi pengguna internet tanpa filter yang kuat. Gerakan Peluk Indonesia hadir untuk mengisi ruang tersebut dengan pesan-pesan perdamaian yang menyejukkan.
Gerakan ini tidak hanya sekadar seremonial, melainkan sebuah langkah konkret untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menyerap informasi. Fokus utamanya adalah membangun kesadaran kolektif bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk bekerja sama membangun daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Miftah menekankan pentingnya sikap saling menghormati meski berdiri di atas fondasi keyakinan yang berbeda. Ia mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai modal sosial yang besar bagi Indonesia, khususnya di Bali yang menjadi jendela dunia.
"Beda iman, saling menguatkan!" ujar Gus Miftah di hadapan para tokoh agama dan masyarakat yang hadir.
Pernyataan tersebut menjadi slogan utama dalam gerakan ini. Pesan ini mengandung makna mendalam bahwa setiap pemeluk agama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pemeluk agama lain di lingkungan sekitarnya.
Pemilihan Vihara Buddha Sakyamuni di Denpasar sebagai lokasi peluncuran bukanlah tanpa alasan. Tempat ibadah ini dianggap merepresentasikan semangat kebersamaan dan inklusivitas yang telah lama terjaga di Bali. Kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang agama di vihara tersebut mempertegas komitmen lintas iman dalam mendukung program pemerintah.
Program Peluk Indonesia rencananya akan disosialisasikan secara masif melalui berbagai platform digital dan pertemuan tatap muka di sejumlah daerah. Denpasar menjadi titik awal yang diharapkan mampu menginspirasi kota-kota lain di Indonesia dalam menjaga api toleransi tetap menyala di tengah arus digitalisasi.