Instagram mulai menguji fitur label "AI creator" opsional untuk meningkatkan transparansi konten yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan di platformnya. Fitur baru ini memungkinkan kreator mengidentifikasi akun mereka secara mandiri guna membangun kepercayaan dengan pengikut melalui label khusus di profil dan konten.
Instagram resmi memulai uji coba fitur label "AI creator" sebagai langkah terbaru untuk memperjelas batasan antara konten organik dan buatan mesin. Label tingkat akun ini dirancang agar kreator bisa secara sukarela menyatakan bahwa identitas atau konten yang mereka bagikan melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif.
Langkah Meta ini diambil di tengah meningkatnya perdebatan mengenai transparansi digital. Berbeda dengan label "AI info" yang sudah ada sebelumnya, label baru ini ditempatkan lebih menonjol pada profil pengguna, unggahan feed, hingga video pendek Reels. Pesan yang ditampilkan pun jauh lebih lugas dibandingkan sistem deteksi otomatis milik Meta yang sering dianggap kurang akurat.
Kreator yang masuk dalam program uji coba ini akan melihat opsi baru di pengaturan akun mereka. Jika diaktifkan, label tersebut akan memberikan informasi eksplisit kepada audiens yang berbunyi: "Profil ini mengunggah konten yang dibuat atau dimodifikasi dengan AI."
Meta mengeklaim bahwa bahasa yang digunakan dalam label terbaru ini jauh lebih eksplisit. Sebelumnya, label "AI info" hanya memberikan indikasi bahwa sebuah unggahan "mungkin" dibuat dengan alat AI, yang sering kali membingungkan pengguna karena bahasanya yang dianggap terlalu diplomatis dan samar.
Meskipun langkah ini merupakan kemajuan, sifatnya yang masih opsional memicu kritik mengenai efektivitas jangka panjang. Dewan Pengawas Meta (Oversight Board) sempat menyoroti bahwa pengungkapan konten AI saat ini masih dilakukan secara serampangan karena keterbatasan teknologi deteksi otomatis perusahaan.
Meta belum memberikan respons resmi terkait rekomendasi dewan untuk mewajibkan label pada semua konten yang terdeteksi AI. Perusahaan memilih pendekatan yang lebih lunak dengan cara mendorong kreator yang rutin mengunggah konten AI untuk menggunakan fitur ini demi menjaga hubungan baik dengan audiens mereka.
Kehadiran label "AI creator" memiliki relevansi besar bagi industri kreatif di Indonesia, mengingat maraknya penggunaan influencer virtual dan konten berbasis AI untuk pemasaran. Bagi brand lokal, label ini bisa menjadi indikator integritas dalam kampanye digital agar audiens tidak merasa tertipu oleh konten yang terlihat terlalu nyata.
Kreator konten di tanah air kini memiliki alat untuk membedakan karya seni digital murni dengan konten hasil olahan algoritma. Hal ini juga membantu memitigasi penyebaran misinformasi atau manipulasi visual (deepfake) yang belakangan ini menjadi perhatian serius regulator dan pengguna media sosial di Indonesia.
Meta diperkirakan akan terus mengevaluasi hasil uji coba ini sebelum memutuskan untuk menggulirkan fitur secara permanen ke seluruh pengguna global. Seiring dengan teknologi AI yang semakin sulit dibedakan dengan mata telanjang, kebijakan pelabelan ini kemungkinan besar akan terus berevolusi menjadi lebih ketat di masa depan.