Gianyar Gelar WMD Art Festival IV, 250 Seniman Muda Lomba Tapel

Penulis: Muhammd Nizar  •  Senin, 04 Mei 2026 | 14:55:46 WIB
Seniman muda Bali tampilkan kreativitas dalam lomba tapel di WMD Art Festival IV, Gianyar.

GIANYAR — Kreativitas seniman muda Bali akan kembali diuji dalam ajang WMD Art Festival IV yang dijadwalkan berlangsung pada 6-7 Juni 2026. Bertempat di Banjar Lebah, Desa Keramas, Blahbatuh, festival tahun ini mengedepankan nilai Tri Hita Karana sebagai respons terhadap isu lingkungan di Pulau Dewata.

Penyelenggara menyiapkan kuota bagi 250 peserta yang akan bersaing dalam berbagai kategori seni, mulai dari tingkat pelajar hingga umum. Fokus utama festival kali ini adalah perlombaan tapel (topeng) yang dirancang lebih inovatif untuk memacu orisinalitas karya anak muda tanpa meninggalkan pakem budaya.

Edukasi Tri Hita Karana dan Isu Lingkungan Bali

Pemilik Lawar Plek WMD sekaligus penggagas acara, I Wayan Dede Pranata, menjelaskan bahwa tema Tri Hita Karana dipilih untuk mendekatkan seni dengan alam dan spiritualitas. Konsep ini dinilai sangat relevan dengan persoalan sampah yang saat ini menjadi perhatian serius di berbagai wilayah Bali.

"Tahun ini kami mengangkat tema Tri Hita Karana sebagai bentuk edukasi kepada generasi muda agar seni tetap selaras dengan manusia, lingkungan, dan Tuhan," ujar pria yang akrab disapa Dede WMD tersebut.

Menurutnya, semangat ramah lingkungan kini mulai merambah dunia seni pertunjukan dan kriya di Bali. Hal ini terlihat dari tren pembuatan Ogoh-ogoh maupun tapel yang mulai beralih menggunakan bahan-bahan alami dan mengurangi penggunaan plastik atau styrofoam.

Lomba Live Tapel Jadi Pembeda di WMD Art Festival

Panitia menyusun agenda perlombaan yang komprehensif, mencakup kategori SD, SMP, hingga umum. Salah satu kategori yang paling dinanti adalah lomba live tapel khusus tingkat SMP, di mana peserta wajib menyelesaikan karya di lokasi dalam waktu satu hari penuh.

"Untuk lomba live tapel, peserta akan membuat tapel langsung di lokasi dari awal sampai selesai dalam durasi satu hari penuh. Ini menjadi pembeda dengan lomba serupa di tempat lain," jelas Dede.

Selain kategori reguler, terdapat pula lomba "perang bintang" yang dikhususkan bagi para juara dari edisi sebelumnya. Langkah ini diambil untuk menjaga standar kualitas karya sekaligus menjadi ajang pembuktian bagi seniman muda yang telah memiliki reputasi di berbagai kompetisi daerah.

Dorong Pemerintah Beri Ruang Pamer di Pesta Kesenian Bali

Pelaksanaan festival pada Juni 2026 sengaja diselaraskan dengan momentum Pesta Kesenian Bali (PKB). Dede berharap pemerintah daerah memberikan dukungan lebih luas agar karya-karya tapel dan Ogoh-ogoh mini hasil kreativitas pemuda ini mendapatkan ruang pamer resmi di ajang kesenian tingkat provinsi.

"Kami berharap pemerintah memberi dukungan agar lomba Ogoh-ogoh mini dan tapel tetap mendapat ruang sebagai bagian pelestarian budaya Bali," tambahnya.

Dede menegaskan festival ini bukan sekadar ajang mengejar validasi juara. Ia ingin setiap karya diapresiasi secara adil karena nilai seni bersifat relatif dan subjektif. Baginya, yang terpenting adalah proses belajar dan keberanian anak muda untuk menampilkan identitas seni mereka sendiri.

Festival ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari penuh di area Lawar Plek WMD. Pembagian jadwal dilakukan secara sistematis, yakni kategori pelajar pada 6 Juni dan kategori umum pada 7 Juni 2026, guna memastikan kenyamanan peserta dan pengunjung yang hadir di Keramas.

Reporter: Muhammd Nizar
Back to top