DENPASAR — AXEAN Festival 2026 siap kembali menghidupkan geliat musik Asia Tenggara di Bali pada 29–30 Agustus mendatang. Ajang yang digelar di Jimbaran Hub ini menargetkan sekitar 2.000 pengunjung selama dua hari, meningkat dua kali lipat dibandingkan dua penyelenggaraan sebelumnya yang hanya mencapai 1.000 orang.
Co-Founder AXEAN Festival, Satria Ramadhan, menyebut festival ini berawal dari keresahan pelaku industri musik regional yang melihat banyak talenta Asia Tenggara belum mendapatkan eksposur cukup di pasar global.
"Concern kita adalah kita takut dunia tidak menganggap musik di Asia Tenggara itu bagus," kata Satria dalam konferensi pers di Bali, Rabu (26/8/2026).
Tahun ini menjadi penyelenggaraan ketujuh AXEAN Festival sekaligus tahun ketiga digelar di Bali. Sebelumnya, festival yang mulai berjalan pada 2020 ini sempat digelar dua kali secara daring akibat pandemi COVID-19, lalu pindah ke Singapura selama dua tahun sebelum akhirnya menetap di Pulau Dewata pada 2024.
Jumlah delegasi tahun ini ditargetkan meningkat menjadi sekitar 220 orang, dibandingkan sekitar 170 delegasi pada penyelenggaraan sebelumnya. Mereka datang dari berbagai negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara hingga Jepang, Korea Selatan, India, Taiwan, Hong Kong, Makau, China, Prancis, Inggris, Meksiko, Australia, dan Kanada.
Para delegasi bukan sekadar penonton. Mereka terdiri dari promotor festival, label rekaman, booking agent, publisher, hingga profesional industri musik lainnya yang berpotensi membuka peluang kerja sama internasional bagi musisi yang tampil.
Dari total 49 artis yang dijadwalkan tampil, sekitar 17–18 di antaranya berasal dari Indonesia. Sejumlah nama yang masuk lineup antara lain Darboy Gang, The Massive, Josubono, Babon dari Yogyakarta, Given dari Ambon, dan Ailea dari Makassar.
Dari negara Asia Tenggara lainnya, terdapat MASDO dan Pitahati dari Malaysia, PLAYERTWO dari Filipina, Subsonic Eye dari Singapura, serta Yellow Fang dan INSPIRATIVE dari Thailand.
Satria menegaskan kurasi artis tidak hanya mengandalkan popularitas. Kualitas musik serta kesiapan musisi untuk menembus pasar internasional menjadi pertimbangan utama.
Berbeda dengan festival musik komersial pada umumnya, AXEAN menempatkan diri sebagai showcase festival. Penampilan para musisi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka secara langsung kepada pelaku industri yang berpotensi membuka jaringan dan peluang internasional.
Mengusung semangat "Music Without Border", festival ini berupaya memperluas jejaring musik Asia Tenggara dan membuka akses musisi regional menuju panggung dunia. Dari forum tersebut, musisi diharapkan mendapatkan peluang kontrak, undangan tampil di luar negeri, hingga kerja sama dengan label rekaman.
Selain showcase, AXEAN 2026 kembali menghadirkan Songwriting Camp, program yang berjalan sejak 2023. Program ini mempertemukan produser, singer-songwriter, dan penulis lagu untuk menciptakan karya secara kolaboratif. Hasil kolaborasi tersebut rencananya akan dirilis melalui berbagai platform digital.
Perhatian terhadap musisi lokal Bali juga diperkuat melalui Bali Band Open Call. Program ini memberi kesempatan bagi band-band asal Pulau Dewata untuk tampil sekaligus membangun koneksi dengan jaringan industri musik yang lebih luas. Penyelenggara juga melibatkan musisi, pekerja kreatif, dan vendor lokal Bali dalam pelaksanaan festival.
Dari sisi lingkungan, AXEAN mulai menerapkan langkah keberlanjutan dengan mendorong pengunjung membawa tumbler, menyediakan air hasil filtrasi, serta mempelajari sistem pengelolaan sampah bersama organisasi lingkungan.
Kehadiran AXEAN Festival di Bali sekaligus memperkuat posisi Pulau Dewata bukan hanya sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga sebagai salah satu pintu masuk musik Asia Tenggara menuju panggung dunia.