BULELENG — Asumsi awal yang menyebut tanah longsor di Desa Munduk dipicu oleh pemakaian herbisida kimia yang merusak struktur akar tanaman ternyata tidak sepenuhnya benar. Kadek Eva Erawan, warga setempat yang sehari-hari menggarap kebun, menegaskan bahwa mayoritas petani di kawasan tersebut justru mengandalkan pupuk organik.
"Kalau masalah obat herbisida, kami di Munduk belum begitu banyak menggunakannya, kebanyakan memakai organik. Yang pakai herbisida paling untuk kebun durian, dan itu pun perekat bunga," ujarnya.
Menurut Kadek Eva, akar persoalan longsor di desa yang terletak di dataran tinggi Buleleng ini adalah manajemen aliran air hujan. Kondisi geografis Munduk yang sangat miring dan bertingkat menuntut setiap lahan memiliki saluran pembuangan yang memadai.
"Karena Munduk ini letak geografisnya sangat miring, bencana tanah longsor itu karena pengaturan air yang kurang," tegasnya.
Ia menjelaskan, air hujan seharusnya dituntun mengalir di dalam teras atau punduk, bukan dibiarkan meluber ke tepi. Jika air dibiarkan mengikis bagian tepi teras, risiko longsor meningkat drastis. Pengalaman pribadinya membuktikan hal ini: senderan rumahnya pernah jebol karena air hujan yang salah arah, sebelum akhirnya dipermanenkan.
Desa Munduk tidak bisa dipandang sebagai satu wilayah yang seragam. Kadek Eva membagi kawasan ini menjadi dua bagian dengan kondisi ekologis yang berbanding terbalik, terutama setelah terjadi pergeseran komoditas pertanian.
Di dusun bagian bawah, sawah yang dulu ditanami padi, bawang, dan palawija kini didominasi perkebunan cengkeh dan durian. Pergeseran ini murni didorong pertimbangan ekonomi. "Kalau dibandingkan hasilnya, memang lebih jauh besar hasil cengkeh dan durian daripada padi," ungkapnya.
Kondisi sebaliknya terjadi di dusun bagian atas. Pepohonan besar yang akarnya kuat mengikat tanah telah banyak ditebang dan digantikan tanaman sayur serta bunga pecah seribu yang berakar dangkal. Di sinilah paradoksnya: alih fungsi lahan di bagian atas justru memperparah kerawanan longsor karena tidak ada lagi struktur alami yang menahan butiran tanah saat hujan deras mengguyur.
Kadek Eva menekankan bahwa upaya pencegahan longsor bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan perawatan berkelanjutan yang disesuaikan dengan musim. Saat kemarau, warga perlu membersihkan selokan-selokan yang tersumbat agar kapasitasnya pulih. Memasuki musim hujan, pengawasan harus dilakukan nyaris tanpa henti.
"Gimana caranya masyarakat ini mencari saluran ke saluran air, biar air hujan ini tak sampai lewat ke pinggir terasering, biar di dalam teras-teras saja mengalirnya menuju ke pembuangan ataukah ke saluran air, pasti agak aman," jelasnya.
Ia menambahkan, kelalaian dalam mengontrol aliran air merupakan faktor utama yang membuat lereng-lereng di Munduk gampang ambrol. Dengan curah hujan yang tinggi, tanah yang tidak diikat oleh akar kuat dan tidak memiliki sistem drainase baik akan mudah jenuh dan longsor.