DENPASAR — Polemik penyelenggaraan fun run di Canggu, Bali, yang berujung pada tuduhan diskriminasi terhadap peserta Indonesia menunjukkan adanya jurang pemisah antara warga lokal dan komunitas ekspatriat di Pulau Dewata. Peristiwa yang terjadi pada Juli 2026 ini memicu diskusi luas tentang perilaku pendatang dan akses ruang publik di kawasan wisata.
Persoalan ini mencuat setelah video acara lari pagi yang memenuhi jalan umum beredar luas di media sosial. Warganet menyoroti pemilihan waktu acara yang dinilai tidak sensitif terhadap jadwal kerja masyarakat setempat, serta adanya keluhan bahwa pendaftaran peserta Indonesia mengalami kendala.
Entourage, pihak yang menggelar acara, angkat bicara melalui akun Instagram resmi mereka. Mereka menyatakan bahwa kesulitan pendaftaran yang dialami peserta dengan nomor telepon Indonesia disebabkan oleh kesalahan teknis pada sistem.
Namun, tekanan publik tetap berlanjut. Dilansir kantor berita Antara, dua penyelenggara utama acara tersebut telah meninggalkan Indonesia dan bahkan dilarang memasuki wilayah Indonesia kembali. Langkah ini menjadi sanksi tegas atas kegaduhan yang ditimbulkan.
Julia Winterflood, penulis kelahiran Australia yang telah menetap di Bali selama 11 tahun, menilai kejadian ini bukanlah kasus yang terisolasi. Ia menyebut insiden ini sebagai konsekuensi wajar ketika para pendatang ekspatriat tetap hidup dalam apa yang digambarkannya sebagai ‘bule bubble’, yaitu komunitas yang terisolasi dari realitas sosial di sekitarnya.
Pernyataan Winterflood menyoroti pola interaksi yang kerap memicu gesekan. Ketika kelompok ekspatriat menggelar kegiatan yang berdampak pada ruang publik tanpa mempertimbangkan ritme kehidupan warga lokal, potensi konflik menjadi tak terhindarkan. Hal ini menjadi pengingat akan pentingnya dialog antarbudaya di kawasan yang ekonominya sangat bergantung pada pariwisata.
Di tengah riuhnya tuduhan diskriminasi, muncul suara berbeda dari warga negara Indonesia yang bekerja di Bali. Ryan Onara, seorang pelatih pribadi (personal trainer), mengaku secara pribadi tidak pernah mengalami perlakuan diskriminatif selama bekerja di Bali.
Ia juga menilai bahwa Entourage tidak cenderung bersifat diskriminatif terhadap warga negara Indonesia. Meski demikian, Ryan menyayangkan pemilihan waktu acara yang kemudian menjadi sumber masalah utama. Menurutnya, aspek teknis seperti jadwal dan manajemen lalu lintas seharusnya menjadi perhatian utama bagi penyelenggara acara di area publik.
Kasus ini menjadi pelajaran bagi penyelenggara acara di Bali, khususnya yang melibatkan komunitas asing. Koordinasi dengan pemerintah desa dan kepolisian setempat, serta memastikan akses pendaftaran yang inklusif, menjadi kunci untuk menghindari kesalahpahaman yang berujung pada sanksi hukum.