DENPASAR — Prakiraan cuaca Bali untuk Selasa (20/10) dirilis BMKG melalui akun Instagram resmi @bmkgbali. Periode peringatan dini berlaku sejak pukul 08.00 WITA hingga Rabu (21/10) pukul 08.00 WITA, dan tidak ada wilayah kabupaten/kota yang mendapat peringatan hujan dari kategori ringan sampai ekstrem.
Suhu udara di Bali pada hari yang sama diprakirakan berada di kisaran 19-34 derajat Celcius, dengan kelembapan 61-94 persen. Angka ini menempatkan suhu tertinggi Bali pada level 34 derajat Celcius, sementara suhu terendah 19 derajat Celcius.
Potensi gelombang tinggi menjadi catatan tersendiri dalam prakiraan BMKG. Di Perairan Selatan Pulau Bali, tinggi gelombang diprakirakan mencapai 3,0 meter. Sementara Perairan Utara Bali berada pada kisaran 0,5-1,5 meter dan Perairan Selatan Bali 1,0-2,0 meter.
BMKG merinci risiko gelombang tersebut terhadap dua kelompok pengguna laut. Kapal ferry berisiko terdampak jika kecepatan angin mencapai 21 knot dengan tinggi gelombang 2,5 meter. Adapun nelayan berisiko jika kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter.
Arah angin di Bali bergerak dari timur ke tenggara dengan kecepatan 6-36 kilometer per jam. Kombinasi arah dan kecepatan angin ini yang perlu dicermati nelayan dan operator kapal sebelum melaut, terutama di perairan selatan.
BMKG juga mencantumkan jadwal matahari terbit dan terbenam sebagai pelengkap prakiraan. Matahari terbit pukul 05.54 WITA dan terbenam pukul 18.14 WITA. Bulan terbit pukul 13.21 WITA dan terbenam pukul 01.22 WITA.
Kondisi cerah berawan tanpa peringatan hujan memberi ruang bagi aktivitas luar ruang warga Bali pada Selasa (20/10). Namun suhu 34 derajat Celcius tetap perlu diantisipasi, terutama bagi warga yang beraktivitas di siang hari.
Bagi nelayan dan pengguna jasa penyeberangan, pantauan tinggi gelombang di Perairan Selatan Bali sebaiknya dijadikan acuan sebelum berangkat. Potensi gelombang 3,0 meter bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Pembaruan prakiraan cuaca Bali berikutnya dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG Bali. Warga diminta merujuk pada informasi terbaru mengingat kondisi atmosfer bisa berubah dalam hitungan jam.