DENPASAR — Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menyatakan pemerintah berupaya meningkatkan perlindungan terhadap hewan penular rabies sekaligus menekan risiko penularan kepada manusia. Upaya itu dijalankan lewat penyediaan vaksin, peningkatan surveilans, pengujian laboratorium, dan koordinasi lintas sektor.
Pada 2026, Kementan menyediakan 205.000 dosis vaksin rabies. Dukungan tambahan 580.000 dosis dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) dan Mission Rabies dialirkan untuk Bali dan Nusa Tenggara Timur sejak akhir 2025 hingga 2026.
Jumlah itu merupakan dukungan bagi dua wilayah, bukan khusus Bali. Distribusi tetap perlu mengikuti pendataan populasi hewan dan pemantauan cakupan vaksinasi agar wilayah dengan kebutuhan perlindungan lebih besar diprioritaskan.
Balai Besar Veteriner Denpasar mencatat sampel dari Desa Menyali, Kedis, dan Bubunan di Buleleng menunjukkan hasil positif rabies. Pemeriksaan memakai metode Fluorescent Antibody Test (FAT), mengacu laporan ANTARA pada Minggu, 18 Oktober 2026.
Hasil itu menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan petugas kesehatan hewan memperkuat kewaspadaan serta menentukan tindak lanjut pengendalian. Pemeriksaan laboratorium berperan memastikan