BALI — Google resmi meluncurkan Fitbit Edge seharga USD 179, penerus lini Charge yang absen sejak 2023, dan langsung berhadapan dengan Fitbit Air USD 99 di rak yang sama. Selisih USD 80 jadi pertanyaan inti: bayar lebih untuk layar dan GPS, atau pilih pelacak tanpa layar yang lebih murah dan nyaman? Keduanya berbagi ekosistem kesehatan Google yang sama, tapi pengalaman pemakaiannya beda jauh.
Peluncuran Fitbit Edge menutup kekosongan yang dibiarkan Google sejak Fitbit Charge 6 dirilis 2023. Secara positioning, Edge duduk di tengah: lebih kaya fitur dari Air yang tanpa layar, tapi tidak sekompleks Pixel Watch 5 dari sisi aplikasi dan notifikasi.
Tom's Guide mencatat Edge sudah bisa dipesan sekarang dengan jadwal rilis 27 Oktober. Harga resminya USD 179 atau GBP 160, sementara Air tetap di USD 99.
Dari sisi fitur, Edge membawa paket yang mirip Charge: layar mungil, baterai sepekan, GPS built-in, plus pelacakan olahraga, tidur, dan stres dari pergelangan. Bukan pengganti smartwatch penuh, tapi cukup untuk kebutuhan dasar kebugaran.
Perubahan paling kelihatan ada di desain. Edge tampil dengan sudut membulat, meninggalkan gaya kotak Charge 6. Dimensinya juga membesar ke 39,2 x 25,6 mm, dari sebelumnya 36,7 x 23,1 mm.
Edge hadir dalam empat pilihan warna band active: olive green, hitam, putih, dan pink. Versi olive memakai casing aluminium olive, sedangkan varian pink dibalut casing champagne gold.
Sistem pergantian band dibuat mudah, sama seperti Air. Tersedia juga band edisi khusus Stephen Curry dengan harga lebih tinggi, dan sejumlah opsi band lain disebut bakal menyusul.
Untuk membuka health coach bertenaga Gemini dan fitur tidur lanjutan, pengguna Edge maupun Air wajib berlangganan Google Health Premium. Ini biaya tambahan di luar harga perangkat.
Catatan dari pengujian Tom's Guide terhadap Fitbit Air menyebut health coach berbasis AI di ekosistem ini sebagai yang terbaik di kelasnya. Jadi kalau fitur itu memang dipakai, biaya langganannya masih masuk akal.
Pertanyaan utamanya sederhana: seberapa butuh layar di pergelangan? Air tidak punya layar, tidak ada aplikasi ECG, dan tanpa GPS built-in. Keunggulannya ada di harga murah dan desain yang sangat nyaman dipakai.
Edge mengisi celah itu. Ia tidak memberi notifikasi dan aplikasi selengkap Pixel Watch 5, tapi jauh lebih fungsional dari Air untuk melihat umpan balik langsung saat berolahraga.
Tom's Guide belum menguji langsung Fitbit Edge, jadi verdict performa masih menunggu review penuh. Klaim soal akurasi sensor, kenyamanan pemakaian jangka panjang, dan ketahanan baterai real-world belum bisa diverifikasi.
Biaya langganan Google Health Premium juga perlu dihitung sejak awal. Tanpa langganan, sebagian fitur AI dan tidur lanjutan tidak terbuka, sehingga total pengeluaran tahunan bisa lebih besar dari harga perangkatnya.
Kalau prioritas utama adalah harga murah dan kenyamanan dipakai seharian, Fitbit Air tetap jadi pilihan rasional. Pelacakan dasarnya sudah cukup untuk memantau langkah, tidur, dan olahraga tanpa gangguan notifikasi.
Sebaliknya, pengguna yang ingin melihat data langsung di pergelangan, butuh GPS untuk lari atau bersepeda tanpa membawa ponsel, dan menginginkan ECG, Fitbit Edge lebih masuk akal meski harus bayar USD 80 lebih. Edge juga bekerja di Android maupun iOS, jadi tidak terikat satu ekosistem saja.