DENPASAR — Prosedur bedah refraksi modern seperti LASIK (Laser-Assisted in Situ Keratomileusis) maupun Smile Pro memberikan koreksi kelainan pembiasan cahaya pada mata yang bersifat permanen. Koreksi ini berlaku bagi penderita kelainan refraksi seperti rabun jauh (minus) dan astigmatisme (silinder).
Ketepatan skrining dan penentuan kelayakan kondisi fisik mata pasien sebelum operasi menjadi penentu utama agar hasil koreksi bertahan stabil. Hal itu disampaikan Spesialis Mata dr. Ni Luh Made Novi Ratnasari, Sp.M., dalam keterangan pers di Denpasar.
Faktor gaya hidup pascatindakan, khususnya intensitas menatap layar perangkat elektronik, tetap berperan signifikan memicu timbulnya kembali kelainan refraksi. Pasien yang dinyatakan memenuhi syarat medis dan berhasil menjalani prosedur tetap wajib disiplin menjaga pola penggunaan mata sehari-hari.
"Sebagian besar pasien yang mengalami minus kembali itu biasanya memiliki faktor risiko tertentu setelah tindakan. Salah satu pemicu yang paling sering ditemui adalah prolonged work atau aktivitas bekerja di depan layar komputer dalam durasi yang sangat panjang tanpa jeda," terang dr. Novi.
Kelompok pekerja yang paling rentan menurut dr. Novi adalah pekerja media, profesional TI, dan pekerja kantoran. Mereka diminta menerapkan metode perlindungan mata secara berkala untuk menekan risiko regresi atau penurunan kembali kualitas penglihatan pascaoperasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan panduan praktis yang dinilai efektif untuk diadaptasi para pasien pasca-LASIK. Panduan itu dikenal sebagai aturan 20-20-20.
"Ada rekomendasi rule 20-20-20 dari WHO yang sangat efektif untuk diadaptasi. Yaitu, kita mengistirahatkan mata setiap 20 menit sekali setelah menatap layar, kemudian mengalihkan pandangan untuk melihat objek sejauh 20 feet atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Aturan ini sebetulnya sangat simpel dan sangat memungkinkan untuk kita jadikan rutinitas sehari-hari saat bekerja," tambahnya.
Selain faktor screen time dan beban akomodasi mata, dr. Novi memberikan edukasi klinis mengenai munculnya kondisi mata plus atau presbiopia pada kelompok pasien usia 40 hingga 50 tahun ke atas. Secara fisiologis, pasien dewasa dengan riwayat minus tinggi seperti minus 6 umumnya tetap merasa terbantu dan nyaman setelah menjalani LASIK meski gejala presbiopia alami mulai muncul.
Fenomena berbeda terjadi pada pasien usia 50 tahun yang sebelumnya hanya memiliki minus rendah di kisaran 1,5 hingga 2. Pengoreksian minus secara penuh dapat membuat efek presbiopia menjadi lebih dominan dan terasa mendadak saat membaca atau melihat objek dari jarak dekat.
"Ketika minusnya dihilangkan secara total melalui LASIK, maka daya plus alaminya akan langsung terasa menonjol. Pada kondisi ini, biasanya pasien akan menyampaikan keluhan 'kok pandangan saya jadi sedikit buram ya dok kalau melihat jarak dekat'," ujar dr. Novi.
Kondisi tersebut, menurut dr. Novi, bukan disebabkan oleh kegagalan LASIK. Keluhan itu muncul karena efek presbiopia alami akibat penurunan elastisitas lensa mata. Penanganan dan ekspektasi hasil sangat bergantung pada kasus serta kondisi kesehatan mata tiap-tiap pasien.