KARANGASEM — Rangkaian kegiatan di Pura Lempuyang Madya dimulai pukul 07.30 WITA dengan upacara penyucian bangunan suci, meliputi pecaruan, melaspas, dan mendem pedagingan. Setelah persembahyangan bersama, acara berlanjut pada pukul 12.00 WITA dengan penanaman bambu secara simbolis. Selain Wamenparekraf Ni Luh Puspa dan Wagub Bali I Nyoman Giri Prasta, hadir pula Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya.
Pemilihan area suci sebagai lokasi penanaman bukan tanpa alasan. Kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) membutuhkan penutup vegetasi yang mampu memperkuat cadangan air tanah dan mencegah longsor. Bambu punya sistem perakaran serabut yang padat dan efisien mengikat tanah serta meresapkan air hujan ke dalam akuifer.
Selain fungsi ekologis, bambu diproyeksikan menyediakan material berkelanjutan untuk keperluan upacara ritual umat Hindu. Dua manfaat itu yang membuat program ini menyatukan dimensi lingkungan dengan kosmologi keagamaan masyarakat setempat.
Kepala Program YBLL Nurul Firmansyah menegaskan bahwa seluruh tanaman bambu menjadi milik pengelola pura dan masyarakat adat. YBLL hanya mendampingi dari sisi penyediaan bibit unggul hingga transfer teknik budidaya.
"Kegiatan ini adalah semacam penerapan Bambuloka pecah telur pertama di Pura Lempuyang. Pada intinya, proses ini sangat baik sekali karena para pihak di pura itu sudah menyadari bahwa penanaman bambu itu sangat baik untuk memperkuat aspek spiritualitasnya pura, karena air akan menjadi katalis untuk menghasilkan sumber-sumber mata air baru," jelas Nurul Firmansyah.
Pura Lempuyang Madya diposisikan sebagai pilot project yang diharapkan menginspirasi pura-pura lain di Bali. Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyebut langkah ini sejalan dengan penerapan falsafah Tri Hita Karana.
"Terima kasih, sekarang ada penanaman bambu untuk pelestarian lingkungan di Lempuyang. Matur suksma," ungkap I Nyoman Giri Prasta saat memberikan sambutannya.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan alam Bali.
"Mudah-mudahan dengan penanaman bambu yang bersama langsung dengan Pak Wagub hari ini, kita bisa melestarikan lingkungan Bali, menjaga keindahan Bali, membuat kebahagiaan untuk kita semua. Matur suksma Pak Wagub!" tutur Ni Luh Puspa.
Secara keseluruhan, inisiatif Bambuloka menargetkan area seluas 1.000 hektare yang tersebar di 11 pura besar kawasan hulu DAS Ayung dan DAS Unda. Total target penanaman mencapai 125.000 bibit bambu dan pohon.
Kehadiran pejabat pusat dan daerah dalam peluncuran ini memperkuat komitmen lintas sektor terhadap pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal. Setelah Lempuyang Madya, sejumlah pura lain di kedua DAS tersebut menjadi sasaran berikutnya.