DENPASAR — Rangkaian karya ageng Desa Adat Kesiman berlanjut dengan upacara Metatah atau Mepandes Massal yang dipusatkan di kawasan Pantai Padang Galak, Denpasar Timur. Prosesi yang diikuti 345 peserta dari 32 banjar adat itu berlangsung khidmat, dengan Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ikut turun tangan sebagai pengayah.
Jaya Negara tidak hanya menyaksikan jalannya upacara. Ia turut ngayah nyangging, mengasah gigi sejumlah peserta mepandes, didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi. Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan dana punia sebagai bentuk dukungan Pemkot Denpasar terhadap pelestarian tradisi dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.
Menurut Jaya Negara, pelaksanaan karya adat dan keagamaan secara massal terbukti membantu masyarakat. Beban biaya dan waktu yang biasanya ditanggung masing-masing keluarga bisa ditekan tanpa mengurangi kesucian upacara.
"Pelaksanaan karya adat dan keagamaan secara massal ini sangat efektif membantu meringankan beban biaya serta menghemat waktu masyarakat. Rangkaian upacara berlangsung runtut mulai dari Ngaben, Mepetik, Ngangkit ke Pasih, hingga Metatah. Kerja keras Jro Bendesa beserta prajuru ini sangat sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan warga," ujar Walikota Jaya Negara.
Bendesa Adat Kesiman I Ketut Wisna menjelaskan, rangkaian upacara keagamaan massal ini bisa terlaksana berkat sinergi dan kolaborasi erat berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Tahapan ritual telah dimulai sejak prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan Ngingsah pada 16 September, serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September.
Sebelum Metatah digelar, Desa Adat Kesiman lebih dulu menggelar ritual Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta. Jumlah itu lebih besar dibanding peserta mepandes massal yang mengikuti prosesi di Pantai Padang Galak.
"Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan pembiayaan tanpa mengurangi kesucian upacara," kata Ketut Wisna.
Rangkaian karya ageng Desa Adat Kesiman belum selesai. Puncak acara dijadwalkan pada 1 Oktober 2026 melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih.
Seluruh tahapan upacara nantinya akan diputus secara resmi melalui ritual Nyegara Gunung pada 4 Oktober mendatang. Warga Desa Adat Kesiman pun diimbau menyiapkan diri mengikuti dua tahapan penutup tersebut sesuai jadwal yang telah disusun prajuru adat.