BALI — Jakpat merilis hasil survei terbaru yang memotret perilaku milenial dan Gen Z Indonesia dalam menghadiri konser musik. Riset yang dilakukan pada 29 Juni–1 Juli 2026 ini melibatkan responden berusia 17–45 tahun dari berbagai wilayah di Indonesia dengan margin of error di bawah 5 persen.
Butuh hiburan menjadi motivasi paling dominan bagi kedua generasi untuk membeli tiket konser. Sebanyak 55 persen milenial mengaku datang ke konser karena alasan ini, sedikit lebih tinggi dibanding Gen Z yang mencapai 54 persen.
Menariknya, Gen Z lebih terdorong untuk meredakan stres lewat konser musik. Jakpat mencatat 47 persen responden Gen Z memilih alasan ini, sementara milenial hanya 41 persen.
Keinginan melihat musisi favorit tampil di panggung menjadi alasan kedua yang paling banyak dipilih. Sekitar 46 persen milenial dan 45 persen Gen Z mengaku termotivasi oleh faktor ini.
Keseruan pertunjukan langsung juga menarik minat hampir separuh responden. Sebanyak 43 persen Gen Z dan 41 persen milenial ingin merasakan atmosfer konser yang tidak bisa didapatkan dari rekaman atau streaming.
Jakpat menemukan perbedaan menarik antara kedua generasi dalam hal interaksi dengan artis. Sekitar 19 persen milenial datang ke konser untuk berinteraksi dengan musisi favorit, sementara Gen Z hanya 16 persen.
Dukungan terhadap musisi favorit juga menjadi pertimbangan, dengan 22 persen milenial dan 21 persen Gen Z mengaku ingin menunjukkan dukungan langsung. Faktor ajakan teman atau keluarga tercatat sama kuat di kedua generasi, masing-masing 22 persen.
Sebagian kecil responden mengaku datang ke konser karena faktor tren dan perayaan momen spesial. Kedua alasan ini masing-masing dipilih 7 persen milenial, sementara Gen Z mencatat 10 persen untuk perayaan momen spesial dan 7 persen untuk tren.
Hanya 13 persen milenial dan 9 persen Gen Z yang datang karena sudah lama tidak menonton konser. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar penonton konser di Indonesia memiliki rutinitas menghadiri pertunjukan musik secara berkala.