BADUNG — Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, hanya nama Jimbaran dan Kuta yang melekat kuat di ingatan publik, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Akibatnya, kekeliruan penyebutan pun tak terhindarkan. Ketika Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI) Pusat menggelar Kongres pada Januari 2023, gala dinner yang berlangsung di Pantai Kedonganan disebut oleh tour leader sebagai acara di Pantai Jimbaran. Sejumlah peserta dari Bali yang mengetahui lokasi sebenarnya dibuat kalang-kabut karena harus berpindah lokasi.
Jimbaran dan Kuta sama-sama memiliki pantai berpasir putih dan pemandangan matahari terbenam yang memukau. Keduanya juga pernah menjadi sasaran aksi terorisme yang melumpuhkan pariwisata Bali.
Ledakan Bom Kuta yang dikenal sebagai Bom Bali I terjadi pada Sabtu Kelabu, 12 Oktober 2002, di Paddy's Club, sebuah tempat diskotek. Sementara itu, Ledakan Bom Jimbaran atau Bom Bali II terjadi pada Sabtu Kelabu, 1 Oktober 2005, di kawasan kuliner ikan bakar pinggir pantai. Dua peristiwa itu membuat simbol pariwisata Bali hancur lebur dan industri pariwisata kolaps.
Ada sejumlah alasan mengapa Jimbaran lebih dikenal luas dibanding tetangganya. Pertama, keberadaan Pasar Jimbaran yang telah menjadi pusat lalu lintas perdagangan sejak lama. Warga dari wilayah Delod Ceking biasa berdagang atau sekadar bertukar barang di pasar ini sebelum pariwisata berkembang.
Kedua, posisi geografis Jimbaran yang unik. Selain memiliki bukit sebagai benteng di bagian selatan, kawasan ini juga punya dataran di bagian utara yang menjadi pusat aktivitas warga. Hingga tahun 1990-an, nelayan tradisional dengan jukungnya masih mudah dijumpai berteduh di bawah pohon waru sambil memperbaiki jaring.
"Jaring yang rusak ibarat pakaian robek harus ditambal sehingga bila dipasang, ikan tetap terjaring. Begitulah bandega dulu merawat jaring sebagai bentuk dedikasi nelayan yang menyatu dengan perabotannya," demikian gambaran yang tertulis dalam catatan sejarah kawasan tersebut.
Pantai Jimbaran juga menjadi tempat warga Delod Ceking melakukan tradisi ngujur, yakni menunggu nelayan pulang melaut untuk sekadar meminta bagian ikan. Tradisi ini menunjukkan eratnya hubungan masyarakat pesisir dengan laut sebagai sumber kehidupan.
Kini, jejak kemaritiman itu tergerus modernitas. Di Pantai Kuta, satu dua jukung masih bersandar, tetapi kalah pamor dengan para peselancar yang memadati pantai. Adapun di Jimbaran, ikon yang bertahan justru kuliner ikan bakarnya yang telah merambah hingga Jakarta dan Bandung.
Nama besar Jimbaran pun akhirnya memberi dampak ekonomi luas. Tetamu yang menonton pertunjukan kecak di Uluwatu, Pantai Melasti, atau Pandawa umumnya diarahkan makan malam di Pantai Jimbaran dan Kedonganan. Padahal, Kedonganan memiliki puluhan kafe di kawasan Pasih Kauh yang tak kalah menarik, hanya saja namanya tak semendunia Jimbaran dalam strategi pemasaran pariwisata.