Ketua Tim Peneliti Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, menjelaskan bahwa teknologi AR akan menyajikan informasi digital yang terintegrasi dengan objek nyata di lokasi. Wisatawan cukup memindai QR Code atau mengakses titik tertentu untuk memperoleh model tiga dimensi (3D), animasi, narasi sejarah, hingga video tentang kearifan lokal.
"Melalui teknologi ini, wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif mengenai sejarah, arsitektur tradisional, filosofi, serta nilai-nilai budaya yang hidup di Desa Penglipuran," ujar Lasmawan, Senin.
Anggota tim peneliti, I Wayan Pardi, merinci platform digital ini mencakup sejumlah fitur pendukung pengelolaan destinasi. Selain QR Marker pada objek budaya, sistem ini dilengkapi dashboard monitoring kepadatan wisatawan, peta wisata interaktif, serta katalog digital UMKM berbasis narasi budaya.
"Seluruh fitur dirancang untuk mendukung pengelolaan destinasi yang lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas layanan informasi kepada wisatawan," jelas Pardi.
General Manager Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menyambut positif inovasi yang tengah dimatangkan tersebut. Menurutnya, konsep Smart Sustainable Edutourism sejalan dengan visi desa yang mengedepankan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pelestarian budaya.
"Sistem ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengalaman wisatawan sekaligus membantu pengelola dalam mengambil keputusan berbasis data. Kami berharap implementasinya dapat semakin memperkuat daya saing Penglipuran sebagai destinasi wisata budaya berkelas dunia," ungkap Sumiarsa.
Saat ini, tim peneliti dari perguruan tinggi pendidikan terbesar di Pulau Dewata itu telah memasuki tahap penyempurnaan sistem. Implementasi dan uji coba di lapangan direncanakan setelah seluruh fitur dinyatakan siap. Program ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).