BADUNG — Angka serapan lulusan SMK Pariwisata Yapparindo di Kabupaten Badung mencapai 80 persen. Sebagian besar siswa sudah mendapatkan pekerjaan di hotel, restoran, dan biro perjalanan wisata sebelum ijazah mereka resmi diterbitkan.
Keberhasilan itu tidak lepas dari kurikulum yang dirancang bersama para pelaku industri pariwisata di Bali. Sekolah menyelaraskan materi ajar dengan kebutuhan langsung di lapangan, mulai dari tata boga, perhotelan, hingga pemandu wisata.
Siswa tidak hanya belajar teori di kelas. Mereka menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sejumlah hotel dan restoran berbintang di kawasan Nusa Dua, Kuta, dan Jimbaran. PKL itu menjadi jalur rekrutmen langsung oleh perusahaan.
Kepala SMK Pariwisata Yapparindo menyebut bahwa industri pariwisata di Bali tidak lagi punya waktu untuk melatih karyawan dari nol. Mereka mencari lulusan yang sudah menguasai standar operasional prosedur (SOP) sejak hari pertama kerja.
"Kami tidak hanya mencetak lulusan, tapi tenaga kerja yang langsung bisa diandalkan. Karena itu, sejak kelas 10, siswa sudah dikenalkan dengan budaya kerja industri," ujarnya.
Meski angka serapan tinggi, sekitar 20 persen siswa memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi atau membuka usaha sendiri. Beberapa di antaranya merintis bisnis kuliner khas Bali dan jasa fotografi wisata.
Pihak sekolah tetap memantau perkembangan alumni melalui grup komunikasi dan kerja sama dengan Dinas Pariwisata Badung. Data itu digunakan untuk mengevaluasi kurikulum setiap tahun ajaran baru.
Tingginya serapan lulusan SMK pariwisata di Badung berdampak langsung pada pengurangan angka pengangguran muda di Bali. Para siswa yang berasal dari desa-desa di sekitar Badung kini bisa bekerja tanpa harus merantau ke kota besar.
Mereka juga menjadi tenaga kerja yang mengisi posisi-posisi kunci di hotel-hotel yang menjadi tulang punggung pariwisata Bali. Hal ini memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang bergantung pada sektor jasa dan perhotelan.