KLUNGKUNG — Rangkaian persembahyangan dipusatkan di tiga pura suci di Kecamatan Nusa Penida, yaitu Pura Puseh Mastulan, Pura Puseh Banjar Adat Ponjok, dan Pura Penataran Ped. Gubernur dan bupati menjalani prosesi ibadah di lokasi tersebut setelah melakukan aksi lingkungan.
Sebelum puncak persembahyangan dimulai, Gubernur Wayan Koster bersama Bupati I Made Satria melakukan penanaman bibit pohon kelapa di kawasan sekitar pura. Aksi ini menjadi simbolisasi dari esensi Tumpek Wariga, yakni Pengatag atau Uduh.
Penanaman pohon tersebut merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan manusia terhadap alam, khususnya tumbuh-tumbuhan yang telah memberikan sumber kehidupan. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat Bali untuk terus menjaga keseimbangan ekosistem.
Hari Suci Tumpek Wariga diperingati setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali, tepat pada Saniscara Kliwon Wariga. Umat Hindu di Bali memuliakan tumbuh-tumbuhan pada hari ini sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang telah menyediakan kebutuhan hidup manusia.
Di Nusa Penida, perayaan tahun ini terasa lebih istimewa dengan kehadiran langsung Gubernur Bali dan Bupati Klungkung yang turun ke lapangan. Kehadiran mereka di tengah masyarakat menjadi simbol sinergi antara pemerintah dan adat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Persembahyangan bersama dipusatkan di tiga pura suci yang tersebar di Kecamatan Nusa Penida. Pura Puseh Mastulan, Pura Puseh Banjar Adat Ponjok, dan Pura Penataran Ped menjadi lokasi utama rangkaian ibadah yang diikuti oleh tokoh adat dan masyarakat setempat.
Pemilihan tiga pura ini tidak terlepas dari nilai historis dan spiritual yang melekat di masing-masing lokasi. Pura Penataran Ped, misalnya, dikenal sebagai salah satu pura khayangan jagat yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam di Nusa Penida.