BULELENG — Puluhan Bhikkhu asal Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia mulai menapaki jalur lintas provinsi dari Bali menuju Jawa Tengah. Ritual jalan kaki ini dijadwalkan berlangsung hingga 28 Mei 2026, dengan titik akhir di Candi Borobudur, Magelang, menjelang perayaan Hari Suci Waisak.
Gubernur Bali Wayan Koster melepas langsung rombongan di Brahma Vihara Arama, Singaraja. Ia didampingi Wakil Menteri Agama RI Romo R. Muhammad Syafi’i, Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, serta jajaran Forkopimda setempat.
Indonesia Walk For Peace 2026 melampaui sekadar aktivitas fisik keagamaan. Para Bhikkhu akan menembus empat provinsi untuk memancarkan vibrasi perdamaian dari Pulau Dewata ke berbagai wilayah di Indonesia.
Gubernur Wayan Koster memastikan pemerintah daerah mendukung penuh kesuksesan perjalanan ini. Ia mengajak masyarakat di sepanjang rute untuk memberikan dukungan moral dan menjaga kelancaran prosesi para biksu.
“Kita semua respect dan hormat. Jadi tentu saja kegiatan ini tidak sebatas kegiatan fisik keagamaan yang sakral tapi juga ini membawa kesan kedamaian yang dipancarkan dari Bali dan akan melintasi 4 provinsi,” ujar Koster di Brahma Vihara Arama.
Bagi Pemerintah Provinsi Bali, aksi ini beririsan kuat dengan visi Nangun Sat Kerti Loka Bali. Koster menilai nilai-nilai yang dibawa para Bhikkhu selaras dengan upaya menjaga kesucian serta keharmonisan alam beserta isinya.
“Luar biasa dan ini sangat sejalan dengan upaya kita bersama di Bali dengan visi Nangun Sat Kerti Loka Bali, yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera bahagia niskala sekala,” jelas Gubernur Bali dua periode tersebut.
Koster berharap perjalanan ini menjadi sumber inspirasi bagi dunia untuk terus hidup dalam harmoni. Menurutnya, aksi ini merupakan praktik nyata toleransi melalui ketahanan fisik yang berat namun tetap teduh.
Wakil Menteri Agama RI, Romo R. Muhammad Syafi’i, mengapresiasi agenda suci ini sebagai bukti moderasi beragama yang otentik. Ia menilai fondasi kedamaian di Indonesia sudah terbangun kokoh jauh sebelum istilah politik toleransi digaungkan.
“Ternyata sejak bawa ajaran umat beragama di Indonesia, sebelum kita menerapkan politik toleransi dan moderasi sudah punya fondasi yang sama. Bagaimana mereka dengan upaya yang maksimal meninggalkan hawa nafsunya kemudian menebar kedamaian,” kata Romo Syafi’i.
Ia juga menyoroti dukungan para kepala daerah lintas agama sebagai bukti konkret nilai persaudaraan di Indonesia. Kehadiran para tokoh agama internasional ini diharapkan memperkuat citra Indonesia sebagai pusat toleransi dunia di mata internasional.