Kredit Investasi Bali Melompat 17,81 Persen, IJK Tetap Stabil

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 20:05:05 WIB
Penyaluran kredit investasi di Bali melonjak 17,81 persen pada Februari 2026.

Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) tetap terjaga hingga Februari 2026, dengan penyaluran kredit perbankan yang terus bertumbuh didukung likuiditas memadai. Kepala OJK Provinsi Bali menjelaskan penyaluran kredit perbankan di Bali berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,47 persen year on year (yoy) menjadi Rp119,75 triliun, sementara kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh lebih tinggi pada 7,24 persen yoy menjadi Rp144,20 triliun.

Kredit Investasi Dorong Ekspansi Usaha

Pertumbuhan kredit di Bali paling kuat berasal dari kredit investasi yang melonjak 17,81 persen yoy atau bertambah Rp6,32 triliun. Peningkatan ini terutama terkonsentrasi pada sektor penyediaan akomodasi, makan minum, dan real estate. Kenaikan kredit investasi ini menjadi sinyal penting meningkatnya ekspansi usaha di Bali, khususnya sektor pariwisata dan properti yang dinilai menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang Pulau Dewata.

Sementara itu, kredit konsumsi juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,98 persen yoy. Namun, kredit modal kerja mengalami moderasi minus 2,45 persen yoy, menunjukkan tren pergeseran fokus pembiayaan ke arah investasi baru daripada operasional.

UMKM Tetap Dominan dalam Penyaluran Kredit

Dari sisi pelaku usaha, porsi kredit untuk UMKM tetap mendominasi mencapai 51,32 persen dari total kredit Bali dengan pertumbuhan 4,71 persen yoy. Penyaluran kredit ini didominasi usaha mikro sebesar 42,17 persen dan usaha kecil 37,43 persen, menegaskan posisi UMKM sebagai tulang punggung pembiayaan daerah.

Berdasarkan sektor ekonomi, kredit terbesar masih mengalir ke sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,63 persen dan perdagangan besar-eceran 27,24 persen. Namun, sektor akomodasi dan makan minum menunjukkan pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 16,82 persen yoy atau bertambah Rp2,20 triliun, mencerminkan aktivitas pariwisata yang semakin bergairah.

Likuiditas Perbankan Memadai untuk Intermediasi

Pada sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bali tumbuh 6,05 persen yoy menjadi Rp204,59 triliun, terutama didorong peningkatan tabungan sebesar Rp6,53 triliun. Pertumbuhan DPK ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan Bali.

Likuiditas perbankan juga tetap memadai dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 58,53 persen pada Februari 2026. Posisi LDR ini menandakan ruang intermediasi perbankan Bali masih cukup besar untuk mendukung pembiayaan ekonomi ke depan, memberikan ruang bagi perbankan melanjutkan penyaluran kredit tanpa mengalami tekanan likuiditas yang ketat.

Stabilitas IJK dan pertumbuhan kredit investasi yang kuat ini diharapkan menjadi katalis bagi pemulihan ekonomi Bali yang lebih berkelanjutan, terutama pasca revitalisasi sektor pariwisata dan ekspansi investasi properti di Pulau Dewata.

Reporter: Redaksi
Back to top