Sopir Truk di Karangasem Dibakar Bosnya gegara Tunggak Setoran Rp 8,5 Juta, Korban Kini Dirawat Intensif

Penulis: Feri Andika  •  Rabu, 23 September 2026 | 06:48:01 WIB
Korban luka bakar 68 persen dirawat intensif di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

KARANGASEM — Korban mengalami luka bakar hingga 68 persen dan kini dirawat di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar setelah sebelumnya sempat ditangani RSUD Karangasem. Kasus ini bermula ketika IPCP mendatangi rumah IGS untuk menagih uang setoran. Saat itu korban sedang beristirahat di kamar karena dua hari tidak bekerja akibat sakit.

Kasi Humas Polres Karangasem Ipda I Nengah Artono menyatakan pelaku dan korban sempat terlibat cekcok sebelum kobaran api muncul dari kamar IGS.

"Diduga karena korban menunggak setoran sebanyak Rp 8,5 juta kepada pelaku. Korban bekerja sebagai sopir truk milik pelaku," ujar Artono dalam keterangannya pada Jumat (18/9).

Polisi Duga Korban Disiram Bensin Pertalite Sebelum Dibakar

Menurut penyidik, uang setoran yang diserahkan IGS jauh dari jumlah Rp 8,5 juta. Korban sebelumnya menyampaikan dirinya tidak masuk kerja selama dua hari karena sakit. Tak lama setelah cekcok, api muncul dari dalam kamar.

Polisi menduga IPCP menyiram korban dengan bensin jenis Pertalite lalu membakarnya. IGS berlari keluar rumah dalam kondisi tubuh terbakar. Warga sekitar membantu memadamkan api sebelum korban dilarikan ke Puskesmas Selat, lalu dirujuk ke RSUD Karangasem.

Luka Bakar 68 Persen, Korban Alami Trauma Inhalasi

IGS tiba di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar pada Jumat (18/9) pukul 19.00 WITA. Kepala Instalasi Rawat Intensif RSUP Prof. Ngoerah, I Putu Kurniyanta, menyebut sejumlah tindakan medis telah dilakukan, mulai dari pembersihan luka, pengamanan jalan napas, pemberian cairan, hingga pertolongan pertama.

"Rawat luka seluruh tubuh, yang mana cukup luas juga luka bakarnya yaitu kurang lebih sekitar 68 persen. Hari keempat ini masih kami lakukan stabilisasi untuk memulihkan proses-proses dalam tubuhnya dan mencegah infeksi di kemudian hari," kata Kurniyanta saat ditemui wartawan di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah, Selasa (22/9).

Dokter mencurigai IGS mengalami trauma inhalasi akibat menghirup uap panas. Pernapasannya masih dibantu alat. Dokter spesialis bedah plastik Agus Roy Rusly Hariantana Hamid menyebut luka bakar korban dominan di dada atau toraks dan melingkar hingga punggung, dengan kedalaman derajat 2B sampai derajat 3.

"Jeratan luka bakar itu seperti diikat dengan tali di dada yang membuat pasien sulit bernapas. Ini sampai melingkar, sehingga benar-benar dijepit jaringan di dalamnya untuk bernapas," ujar Roy.

Risiko Kematian 300 Kali Lipat, Korban Tunggu Operasi Tandur Kulit

IGS diperkirakan masih menjalani sejumlah operasi. Jika kondisinya membaik, dokter akan mengambil tandur kulit dari paha korban untuk mempercepat penyembuhan.

"Luka bakar yang lebih dari 40 persen, ditambah dengan adanya trauma inhalasi, itu risiko kematiannya lebih tinggi 300 kali lipat, secara teori dan jurnal," imbuh Roy.

IGS Tulang Punggung Keluarga, Biaya Pengobatan Andalkan Donasi

Paman korban, I Nengah Sridana, menyebut IGS merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani, dan profesi sopir truk menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

"Jadi untuk biaya, pasti kurang banyak. Keluarga tidak berada, enggak bisa buat berobat. Ini juga mengandalkan donasi dari teman-teman," kata Sridana yang mendampingi ibu korban, Ni Komang Sri Maryati, di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Selasa (22/9).

Sridana menuturkan IGS tidak pernah bercerita soal persoalan setoran kepada keluarganya. Menurut dia, setoran yang dimaksud mencakup masa kerja 15 hari.

"Saat itu korban lagi sakit, panas dan kepalanya sakit. Itu setoran selama 15 hari. Namun, saya tidak mengetahui persisnya karena korban juga enggak pernah cerita masalah ini. Ke orang tua juga tidak pernah karena dia tertutup orangnya," jelasnya.

IPCP kini ditahan di Rutan Polres Karangasem dan dijerat sebagai tersangka. Keluarga berharap proses hukum berjalan tuntas sembari mengupayakan biaya perawatan IGS yang masih kritis.

Reporter: Feri Andika
Sumber: kumparan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top