GIANYAR — Akses menuju wisata air alami di Bali masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pelaku pariwisata. Padahal, hak penyandang disabilitas untuk menikmati fasilitas publik telah dijamin dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, khususnya pada Pasal 16 dan 18 yang mengatur kemudahan akses dan akomodasi yang layak.
Wayan Damai, pengguna kursi roda yang aktif di Yayasan Cahaya Mutiara Ubud, menegaskan bahwa implementasi aturan tersebut masih jauh dari harapan. "Untuk pengguna kursi roda, berdasarkan pengalaman kita berwisata bersama teman-teman yayasan, jujur saja belum bertemu (wisata air alami) yang benar-benar bisa diakses," katanya saat dihubungi pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Dari pengalamannya mendampingi teman-teman difabel, Damai menyebut hanya ada dua tempat yang mendekati kata layak, itupun tetap membutuhkan bantuan pendamping. "Hanya ada beberapa yang bagus. Tangganya hanya ada satu atau dua, yaitu di Tirta Empul. Tetap perlu pendampingan untuk nyemplung ke air jika mau melukat. Di Singaraja ada di Air Sanih," ujarnya.
Meski jumlahnya terbatas, beberapa lokasi berikut bisa menjadi pilihan untuk wisata keluarga yang membawa lansia atau anak-anak. Berikut rinciannya:
Lokasi wisata ini berada di Desa Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar. Jarak dari tempat parkir ke kolam sangat dekat, dan tersedia ramp atau bidang miring untuk pengguna kursi roda. Namun, pendampingan tetap diperlukan karena dasar kolam yang licin dan kedalaman air mencapai pinggang orang dewasa.
Anak-anak wajib diawasi ketat, sementara lansia dinilai mudah mengakses area ini. Tiket masuknya Rp50.000 untuk dewasa dan Rp30.000 untuk anak-anak.
Objek wisata ini berlokasi di Desa Sanih, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Singaraja. Keunikan Air Sanih adalah kolam air tawar yang dikelilingi pantai. Masyarakat setempat percaya sumber airnya berasal dari aliran bawah tanah Danau Batur, Kintamani.
Terdapat dua kolam, yaitu kolam dewasa dan kolam anak dengan tinggi satu meter. Sayangnya, akses dari parkir menuju kolam masih terdapat beberapa anak tangga. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.
Berlokasi di Banjar Brahmana, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, tempat ini tidak jauh dari Sangeh Monkey Forest. Taman Mumbul menawarkan kolam air jernih yang berasal dari klebutan atau tanah, dan airnya dimanfaatkan untuk irigasi pertanian.
Di sisi timur terdapat Pancoran Solas yang digunakan untuk penglukatan. Akses menuju lokasi masih berupa anak tangga, sehingga tidak disarankan untuk pengguna kursi roda. Tidak ada biaya tiket masuk, hanya parkir motor Rp2.000 dan sewa loker Rp10.000.
Lokasi terakhir berada di Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Tempat ini merupakan dam atau bendungan alami yang kerap dijadikan tempat berenang oleh warga sekitar. Sayangnya, detail lebih lanjut mengenai aksesibilitas di lokasi ini belum terkonfirmasi, namun secara umum medan menuju dam di Karangasem biasanya cukup menantang.
Wayan Damai menyayangkan minimnya implementasi aturan yang sudah tegas tertulis. Menurutnya, aksesibilitas dalam UU Penyandang Disabilitas hanyalah mimpi yang tertunda tanpa adanya niat kuat dari pengelola wisata. "Pertanyaannya, ada niat nggak? Gitu aja," tulisnya singkat.
Ketiadaan infrastruktur ramah disabilitas di destinasi alam ini menjadi ironi tersendiri. Padahal, potensi wisata inklusif di Bali sangat besar, mengingat banyaknya wisatawan mancanegara maupun domestik yang datang dengan kebutuhan khusus.