Misi Damai 50 Bhikkhu: Jalan Kaki dari Buleleng Menuju Borobudur

Penulis: Gilang Permana  •  Minggu, 10 Mei 2026 | 18:46:01 WIB
bhikkhu lintas negara memulai perjalanan spiritual dari Buleleng menuju Candi Borobudur.
Damai 50 Bhikkhu: Jalan Kaki dari Buleleng Menuju Borobudur LEAD: Sebanyak 50 bhikkhu lintas negara memulai perjalanan spiritual jalan kaki dari Buleleng, Bali, menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Gubernur Bali Wayan Koster melepas rombongan "Indonesia Walk For Peace 2026" ini pada Jumat (9/5/2026). Aksi ini menjadi simbol kuat pesan perdamaian dunia yang terpancar nyata dari Pulau Dewata bagi masyarakat internasional. ISI:

BULELENG — Puluhan bhikkhu asal Laos, Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia resmi memulai aksi jalan kaki lintas provinsi bertajuk Indonesia Walk For Peace 2026. Perjalanan spiritual ini berangkat dari Brahma Vihara Arama, Buleleng, menuju Candi Borobudur. Para peserta menargetkan waktu tempuh selama 20 hari untuk mencapai destinasi suci di Jawa Tengah tersebut.

Gubernur Bali Wayan Koster melepas langsung rombongan tersebut sebagai bentuk dukungan penuh pemerintah daerah. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar ritual, melainkan cerminan nilai kemanusiaan dan harmoni lintas agama yang mengakar di Bali. Koster menegaskan bahwa semangat ini merupakan identitas kuat masyarakat Pulau Dewata.

“Ini kegiatan sakral, perjalanan suci dalam rangka perayaan Hari Waisak yang jatuh pada 31 Mei. Dilakoni dengan berjalan kaki dari vihara ini sampai ke Borobudur,” ujar Koster saat memberikan sambutan di Buleleng.

Selaras Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Koster menekankan bahwa Indonesia Walk For Peace 2026 berkelindan erat dengan arah pembangunan daerah. Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menitikberatkan pada penjagaan kesucian serta keharmonisan alam Bali beserta isinya. Upaya ini bertujuan mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara sekala-niskala.

Gubernur meyakini langkah para bhikkhu bakal menyedot perhatian internasional. Pesan universal tentang toleransi dan persaudaraan yang dibawa dari Bali diharapkan memperkuat stabilitas perdamaian global. Langkah kaki mereka membawa misi besar melintasi batas-batas negara.

“Tidak semata kegiatan fisik keagamaan, tetapi juga membawa pesan kedamaian yang terpancar dari Bali melintasi empat provinsi. Saya yakin ini akan menjadi perhatian masyarakat dunia,” jelasnya.

Vibrasi Kedamaian Lintas Empat Provinsi

Para peserta akan melintasi empat provinsi sebelum dijadwalkan tiba di Magelang pada 28 Mei 2026. Koster mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah yang dilalui rombongan untuk mendukung kelancaran perjalanan spiritual tersebut. Solidaritas warga di sepanjang rute menjadi kunci keberhasilan misi ini.

“Semoga niat mulia dan suci ini menginspirasi kita semua untuk selalu hidup penuh toleransi dan kedamaian,” tambah Koster. Ia berharap perjalanan ini memancarkan vibrasi kedamaian bagi Indonesia.

Kedisiplinan spiritual para bhikkhu diharapkan menjadi teladan nyata dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman bangsa. Semangat pantang menyerah mereka menyimbolkan keteguhan dalam menjaga nilai-nilai luhur Nusantara.

Fondasi Toleransi Nusantara

Wakil Menteri Agama RI Romo R. Muhammad Syafi’i turut memberikan apresiasi tinggi terhadap tradisi spiritual ini. Ia menilai aksi jalan kaki tersebut membuktikan bahwa moderasi beragama telah lama mengakar dalam budaya Nusantara. Nilai-nilai luhur ini sudah ada jauh sebelum istilah politik toleransi populer.

“Bangsa ini sudah punya fondasi kuat, yaitu bagaimana umat beragama meninggalkan hawa nafsu dan menebarkan kedamaian,” kata Romo Syafi’i. Ia optimistis kegiatan ini memperkokoh posisi Indonesia di mata dunia.

Pelepasan rombongan turut dihadiri Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, jajaran Forkopimda Bali, serta tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kehadiran tokoh lintas iman ini mempertegas posisi Bali sebagai laboratorium toleransi di Indonesia.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: barometerbali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top