SINGARAJA — Olahraga bela diri asal Prancis, Savate, mulai menapaki langkah serius di Bali. FSI Bali menunjuk Buleleng sebagai calon tuan rumah eksebisi Savate pada Porprov Bali 2027, sebuah langkah strategis untuk memperkenalkan cabor ini ke panggung yang lebih luas.
Sekretaris Pengurus FSI Bali, Deva Putra, menyatakan Buleleng memiliki potensi besar. Selain kepengurusan yang baru terbentuk, keseriusan dalam pembinaan atlet dan perangkat pertandingan menjadi pertimbangan utama.
“Buleleng kami targetkan menjadi tuan rumah eksebisi Savate di Porprov Bali 2027. Tentu nantinya harus menyiapkan venue, akomodasi dan kebutuhan pertandingan lainnya. Ada 36 nomor pertandingan yang akan dipertandingkan,” ujar Deva di sela pelantikan pengurus di Taman Budaya Lovina, Minggu (24/5).
Savate mulai berkembang di Indonesia pada 2025, bersamaan dengan terbentuknya FSI Bali. Meski tergolong baru, atlet Bali sudah mampu menorehkan prestasi di tingkat Asia. Pada kejuaraan di Bandung, atlet Savate Bali berhasil meraih juara dua dan tiga, bahkan mengalahkan atlet dari Jepang.
Saat ini, Savate sudah terbentuk di sembilan kabupaten/kota di Bali dengan kepengurusan lengkap. FSI Bali pun mulai menyiapkan langkah menuju pengakuan yang lebih luas, termasuk melalui eksebisi di Porprov Bali 2027.
FSI Bali mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Savate pada November 2026. Ajang ini rencananya diikuti 25 provinsi di Indonesia. Sebelum kejurnas, FSI Bali wajib menggelar Kejurprov yang direncanakan di Jembrana dan Tabanan.
“Untuk tuan rumah Kejurnas ada dua kandidat yakni Badung dan Klungkung,” tambah Deva.
Ketua Savate Buleleng, Turah Dipta Negda, menerima amanah ini dengan misi memberikan ruang positif bagi generasi muda. Menurutnya, Savate dapat menjadi wadah penyaluran bakat anak-anak muda agar tidak terjerumus dalam pergaulan negatif maupun aksi kekerasan di jalanan.
“Kami ingin membawa anak-anak Buleleng berkembang melalui Savate. Daripada bertarung di jalanan, lebih baik kami wadahi lewat olahraga,” tegasnya.
Saat ini, Savate Buleleng telah memiliki sekitar 50 atlet yang menjalani latihan di kawasan Yeh Taluh, Kelurahan Penarukan. Selain atlet, pihaknya juga telah menyiapkan pelatih dan sistem pembinaan berkelanjutan. Kepengurusan baru diisi kalangan muda dengan fokus utama pada pembinaan atlet serta penguatan bidang teknologi informasi untuk memperbesar gaung Savate di Buleleng.
Turah menjelaskan, Savate memiliki kemiripan dengan Muaythai maupun kick boxing. Namun, dalam pertandingan Savate, atlet tidak diperbolehkan menggunakan siku maupun serangan lutut. “Beda tipis sebenarnya sama olahraga beladiri lainnya. Mirip olahraga Muaythai maupun kick boxing,” tandasnya.