Bukan Sekadar Ritual, Tumpek Wariga di Bali Jadi Pengingat Manusia untuk Rawat Alam dan Tanaman

Penulis: Haris Maulana  •  Minggu, 24 Mei 2026 | 15:49:11 WIB
Umat Hindu Bali memperingati Tumpek Wariga dengan sesajen sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Sangkara.

DENPASAR — Umat Hindu di Bali memperingati Hari Raya Tumpek Wariga dengan rangkaian persembahan dan doa yang ditujukan kepada Sang Hyang Sangkara, manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan. Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Apa Makna di Balik Ritual Tumpek Wariga?

Tumpek Wariga jatuh setiap 210 hari sekali, tepat pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga dalam penanggalan Bali. Pada hari ini, umat memberikan sesajen dan menghias tanaman, pohon, hingga kebun sebagai simbol rasa syukur atas anugerah alam yang menghidupi manusia.

Ritual ini bukan sekadar seremoni. Ia mengajarkan bahwa alam adalah bagian dari diri manusia yang harus dirawat, bukan dieksploitasi. Tanaman diperlakukan layaknya saudara, diberi "makan" dan "pakaian" melalui banten (sesajen) serta kain poleng yang dililitkan di batang pohon.

Hubungan Erat dengan Konsep Tri Hita Karana

Ajaran Tri Hita Karana mengajarkan tiga hubungan harmonis: manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Tumpek Wariga menjadi representasi langsung dari hubungan ketiga—manusia dengan alam semesta.

Lewat ritual ini, umat diingatkan bahwa merusak lingkungan sama artinya dengan merusak kehidupan itu sendiri. Tradisi ini juga menjadi kritik halus terhadap praktik modern yang kerap mengabaikan kelestarian alam demi kepentingan ekonomi sesaat.

Bukan Sekadar Hari Besar, Tapi Momentum Refleksi

Dalam praktiknya, Tumpek Wariga juga menjadi ajang evaluasi bagi masyarakat Bali. Apakah selama ini mereka sudah cukup menjaga lingkungan? Apakah pembangunan yang terus berjalan tetap menghormati keseimbangan alam?

Di beberapa desa, perayaan ini bahkan diperluas dengan aksi bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon, hingga edukasi soal pertanian berkelanjutan. Tradisi ini membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi solusi atas krisis lingkungan yang kian nyata.

Warisan Leluhur yang Tak Lekang Zaman

Tumpek Wariga bukanlah peninggalan masa lalu yang usang. Di tengah isu perubahan iklim dan kerusakan ekosistem, tradisi ini justru semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri.

Bagi generasi muda Bali, Tumpek Wariga menjadi pengingat bahwa identitas budaya dan tanggung jawab lingkungan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Merawat tradisi berarti juga merawat bumi.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: radarbadung.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top