Auto ShowsBali

Editorial Lensabali.com : Alat Peraga Kampanye Kian Marak, Bali Dikepung Sampah Visual

Sampah Visual

I Ketut Sukiasa

Pimpinan Umum lensabali.com

Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden dan Pemilihan Anggota Legislatif tinggal menunggu hitungan hari. Pergerakan para kandidat dan tim sukses semakin gencar dan masuk ke semua lini kehidupan masyarakat seperti halnya yang terlihat di beberapa wilayah di Propinsi Bali.


Iklan janji kampanye disebar di berbagai media baik cetak, elektronik maupun digital. Ruang publik menjadi panggung kontestasi dan ajang promosi demi memikat hati masyarakat. Tujuannya adalah satu, lolos menjadi bagian dari kekuasaan.

Sayangnya, syahwat politik para kandidat yang ikut dalam perhelatan lima tahunan ini tidak diimbangi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya alat-alat peraga kampanye yang dipasang di ruang publik justru menimbulkan persoalan baru yakni sampah visual.


Ya, pemasangan alat peraga kampanye berupa bendera, baliho, spanduk, pamflet dan sebagainya dilakukan secara membabi buta. Di pusat-pusat keramaian, di bundaran jalan, di simpang empat jalan raya, banyak terpasang alat peraga kampanye yang tidak hanya melanggar aturan, tapi juga mengesampingkan nilai kepantasan, merusak pemandangan lingkungan.

Para kandidat dan tim sukses tampaknya sudah lupa bahwa Pulau Bali adalah Pulau Pariwisata, di mana keindahan dan keramahan lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung dan daya tarik bagi wisatawan. Seakan tak perduli dengan opini publik, mereka rela melanggar aturan pemasangan alat peraga kampanye demi mendapatkan ruang promosi untuk merebut hati khalayak.


Tak hanya itu, penghormatan terhadap bagian dari keseimbangan alam, yakni pohon dan tumbuhan kini sudah terkikis oleh nafsu politik. Bagaimana tidak, mereka yang nantinya diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat justru mempertontonkan hal yang tidak pantas, memaku pohon untuk memasang alat peraga kampanye!

Jauh panggang dari api, alih-alih ingin merebut hati masyarakat, perilaku para kandidat dan tim sukses ini justru menimbulkan pertanyaan apakah benar mereka ingin menjadi penyambung lidah rakyat atau justru mencari pekerjaan dengan menjadi bagian dari kekuasaan?

Regulasi harus ditegakkan oleh penyelenggara pemilu baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Ketegasan penerapan aturan harus dilaksanakan. Ini tentu saja harus diikuti dengan kesadaran dari para kandidat maupun tim sukses. Bali adalah milik kita bersama, keberadaan sampah visual terutama yang berasal dari alat peraga kampanye harus segera disikapi bersama. Bersihkan Bali dari sampah visual!

Leave a Reply